Senin, 22 November 2010

PEMBERIAN OBAT.V







PEMBERIAN OBAT.V



I. 6 ( ENAM ) BENAR



Perawat bertanggung jawab dalam pemberian obat-obatan yang aman
Perawat harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah tersebut jika tidak lengkap atau tidak jelas atau dosis yang diberikan diluar batas yang direkomendasikan. Secara hukum perawat bertanggung jawab
Jika memberikan obat yang diresepkan dan dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien.
Sekali obat telah diberikan, perawat bertanggung jawab untuk efek yang diduga bakal terjadi.
Supaya dapat tercapainya pemberian obat yang aman, seorang perawat harus melakukan enam hal yang benar, yaitu benar klien, obat yang benar, dosis, waktu, rute dan dokumentasi yang benar.

1. BENAR KLIEN/PASIEN.
@. Tanyakan nama klien dengan lengkap.
@. Periksa gelang identifikasi klien.


Implikasi dalam perawatan mencakup :
1). Memastikan klien dengan memeriksa gelang identifikasi / daftar nama
2). Membedakan dua klien dengan nama belakang yang sama.

2. BENAR OBAT
Berarti klien menerima obat yang telah diresepkan, Perintah pengobatan biasanya dari dokter. Perintah melalui telepon untuk pengobatan harus ditandatangani oleh dokter yang menelpon dalam waktu 24 jam.
Komponen dari perintah pengobatan adalah :
a. Tanggal dan saat perintah ditulis
b. Nama obat.
c. Dosis obat
d. Rute pemberian obat.
e. Frekuensi pemberian.
f. Tanda tangan dokter atau pemberi asuhan.

Ada empat katagori perintah pemberian obat, yaitu
1). Perintah tetap ( Standing order )
2). Perintah satu kali ( Single order )
3). Perintah PRN ( Jika perlu )
4). Perintah STAT ( Segera )



Untuk menghindari kesalahan, label obat harus dibaca tiga kali, yaitu :
1). Pada saat melihat botol atau kemasan obat.
2). Sebelum menuang obat
3). Setelah menuang obat

Implikasi dalam perawatan mencakup :
1). Periksa apakah perintah pengobatan lengkap dan sah. Jika perintah tidak lengkap atau tidak sah, beritahu dokter atau perawat yang bertanggung jawab.
2). Ketahui alasan mengapa klien menerima obat tersebut.
3). Periksa label sebanyak tiga ( 3 ) kali sebelum memberikan obat tersebut.

3. BENAR DOSIS.
Adalah dosis yang diresepkan untuk klien tertentu, dalam beberapa kasus biasanya dosis diberikan dalam batas yang direkomendasikan untuk obat yang bersangkutan.
Perawat harus menghitung setiap dosis obat secara akurat, dengan mempertimbangkan variabel berikut ini :
1). Tersedianya obat dan dosis obat yang diresepkan .
2). Berat badan

Implikasi dalam perawatan termasuk :
1). Hitung dosis obat dengan benar.
Jika ragu-ragu , dosis obat harus dihitung kembali dan diperiksa oleh perawat lain.
2). Lihat buku referensi obat.

4. BENAR WAKTU.
Adalah saat dimana obat yang diresepkan harus diberikan.
Dosis obat harus diberikan pada waktu tertentu dalam sehari, seperti b.i.d ( dua kali sehari ), t.i.d. ( tiga kali sehari ), q.i.d. ( empat kali sehari ) atau q6h ( setiap 6 jam )
Sehingga kadar obat dalam plasma dapat dipertahankan.

Implikasi dalam perawatan termasuk :
1). Berikan obat pada saat yang khusus, obat –obat dapat diberikan sebelum atau setelah makan,.
2). Berikan obat-obat yang terpengaruh oleh makanan seperti tetrasiklin sebelum makan
3). Berikan obat-obat seperti kalium dan aspirin, yang dapat mengiritasi perut( mokusa lambung ) bersama-sama dengan makanan.
4).Tanggung jawab perawat untuk memeriksa apakah klien telah dijadwalkan untuk pemeriksaan diagnostic, seperti endoskopy, tes darah. Puasa yang mana merupakan kontraindikasi pemberian obat.

5. RUTE YANG BENAR
Perlu untuk absorpsi yang tepat dan memadai.
Rute yang lebih sering dari absorbsi adalah Oral, cairan suspensi, pil, tablet, atau kapsul , sub lingual. , bukal, topical, inhalasi,.

Implikasi dalam perawatan termasuk :
1). Nilai kemampuan klien untuk menelan sebelum memberikan obat-obat per-oral.
2). Pergunakan teknik aseptic sewaktu memberikan obat.Teknik steril dibutuhkan dalam rute per-oral.
3). Berikan obat-obat pada tempat yang sesuai
4). Tetaplah bersama klien sampai obat-obat oral telah ditelan.

6. DOKUMENTASI YANG BENAR .
Melaksanakan pencatatan segera tentang informasi yang sesuai mengenai obat yang akan dan telah diberikan kepada klien, meliputi nama obat, dosis, rute pemberian, waktu dan tanggal, dan inisial atau tanda tangan perawat.
Respon klien terhadap pengobatan perlu dicatat untuk beberapa macam obat, seperti narkotika, antibiotika, antiemetik, dan reaksi yang tidak diharapkan terhadap pengobatan, seperti iritasi gastrointestinal atau tanda-tanda reaksi allergi
Penundaan dalam mencatat dapat mengakibatkan lupa untuk mencatat pengobatan atau perawat lain memberikan obat itu kembali karena ia berpikir obat belum diberikan.

II. HAK-HAK KLIEN DALAM PEMBERIAN OBAT
1. Mengetahui alasan pemberian obat
2. Menolak pengobatan, tanpa memperhatikan konsekuensinya.
3. Meminta perawat atau dokter untuk mengkaji riwayat obat, termasuk allergi.
4. Mendapat nasihat yang benar berkenaan sifat suatu terapi yang pernah muncul dan memberi persetujuan untuk penggunaanya.
5. Menerima obat yang dilabel dengan aman tanpa merasa tidak nyaman sesuai dengan 6 ( enam )benar
6. Menerima terapi pendukung yang diperlukan terkait dengan terapi obat yang dijalani.
7. Tidak menerima obat yang tidak perlu.

III. KESALAHAN PENGOBATAN.
Adalah suatu kejadian yang dapat membuat klien dapat menerima obat yang salah atau tidak mendapat terapi obat yang tepat.( edgar,lee.coussin,1994 )
Jika terdapat dalam pelaksanaanya, maka harus segera dilaporkan dan diketahui oleh dokter dan manajer keperawatan . Dokter dapat memutuskan untuk menetralkan efek kesalahan dengan memberikan sebuah antidot ketika obat yang diberikan salah, menunda pemberian obat bila obat sebelumnya diberikan terlalu dini, atau memantau efek obat ketika sebuah obat diberikan dalam dosis yang tidak lazim.
Perawat sebaiknya tidak menyembunyikan kesalahan pengobatan.

IV. PERTIMBANGAN KHUSUS PEMBERIAN OBAT PADA KELOMPOK USIA TERTENTU.
A. BAYI DAN ANAK
Terdapat perbedaan dalam usia, berat badan,. area permukaan tubuh, kemampuan mengabsorbsi, dan mengekskresi.
Terdapat perbedaan dosis dengan orang dewasa, sehingga pada pelaksanaannya perlu perhatian khusus dan perhitungan yang lebih teliti.,
Pada pelaksanaan pemberian obat, perlu dukungan orang tua dan persiapan psikologis anak sebelum minum obat
Kaji kebiasaan anak dalam pemberian obat, bina hubungan yang baik, jelaskan dengan kalimat yang mudah dipahami anak
Berikan reward atau pujian pada anak

Tips pemberian obat pada anak
1. obat oral.
a). Bentuk cair lebih aman dtelan untuk mencegah aspirasi
b). Tawarkan minuman seperti jus, setelah anak berhasil minum obat.
c). Jika obat dicampur dengan pemanis, misalnya sirup, madu maka gunakan dalam jumlah kecil.
d). Spuit plastic disposable ( sekali pakai ) adalah alat yang paling akurat untuk menyiapkan dosis cairan, khususnya spuit berukura 10 ml.
e). Pada saat memberikan obat cair, sendok, cangkir plastic dan spuit oral (tanpa jarum) akan bermanfaat

2. Injeksi
a). Hati-hati dalam injeksi im, karena otot pada bayi dan anak belum berkembang.
b). Pada saat pelaksanaan, mungkin anak tidak koperatif , harus ada seseorang untuk merestrain anak jika diperlukan.,
c). Bangunkan anak sebelum dilakukan injeksi.
d). Alihkan perhatian dalam rangka mengurangi nyeri paska injeksi.
e). Lakukan injeksi dengan cepat dan hindari pertengkaran dengan anak

B. LANSIA.
Perlu perhatian khusus karena adanya perubahan fisiologis, tingkah laku, dan ekonomi.
Individu yang berusia lebih dari 65 tahun merupakan pengguna obat terbanyak( Ebersoe, Hess, 1994) Perawat perlu mencermati 5 (lima) pola penggunaan obat oleh klien lansia. ( Ebersoe, Hes, 1994 )
1. Polifarmasi
Klien menggunakan banyak obat, baik yang diprogramkan atau tidak dalam upaya mengatasi beberapa gangguan secara bersamaan.
2. Meresepkan atau membeli obat sendiri
3. Obat yang dijual bebas.
Dipergunakan oleh 75% lansia.

4. Penggunaan obat yang salah( misuse )
Seperti penggunaan berlebih ( overdosis ), penggunaan yang kurang ( underuse ), penggunaan tidak teratur ( erratic use ) dan penggunaan yang dikontraindikasikan.


5. Ketidakpatuhan.
Ketidak patuhan didifinisikan sebagai penggunaan obat yang salah secara disengaja.
Dari semua populasi lansia 75% diantaranya tidak mematuhi program pengobatan secara sengaja dengan mengubah dosis obat, atau efek samping obat membuat lansia tidak nyaman.
Perawat menggunakan proses keperawatan untuk mengidentifikasi pola penggunaan obat pada klien lansia.
Saat pemberian obat memberikan kesempatan perawat dalam memberikan penyuluhan atau penguatan pada klien lansia


PEMBERIAN OBAT. IV


PEMBERIAN OBAT. IV


A. RUTE PEMBERIAN OBAT.

Pilihan rute pemberian obat tergantung pada kandungan obat dan efek yang di inginkan serta kondisi fisik dan mental klien.

1. Rute Oral.
a. Pemberian per-oral
Adalah rute yang paling mudah dan paling umum digunakan, obat diberikan melalui mulut dan ditelan. Obat yang diberikan per-oral lebih murah daripada banyak preparat lain. Kerja obat lebih lambat.

b. Pemberian sub-lingual.
Adalah obat yang dirancang/disiapkan diberikan / di letakan dibawah lidah dan kemudian larut, mudah diabsorbsi. Obat yang diberikan dibawah lidah tidak boleh ditelan, jika ditelan maka efek yang di harapkan tidak akan tercapai. Klien tidak boleh minum sampai seluruh obat larut.

c. Pemberian bukal.
Adalah pemberian obat dengan cara menempatkan obat padat dimembrane mokusa pipi sampai obat larut. Klien harus diajarkan untuk menempatkan dosis secara bergantian di pipi kanan dan kiri, supaya mokusa tidak mengalami iritasi.
Klien juga di peringatkan untuk tidak mengunyah atau menelan obat atau minum air bersama obat.
Reaksi terjadi secara local pada mokusa dan atau secara sistemik ketika obat ditelan dalam saliva.

Keuntungan Pemberian rute per-oral.
= lebih cocok dan nyaman, ekonomis
= Dapat menimbulkan efek local dan sistemik.
= Jarang membuat cemas.

Kerugiannya atau kontraindikasi
= Rute ini dihindari bila klien mengalami perubahan fungsi saluran cerna ( misal muntah-muntah ), motilitas menurun ( setelah anaestesi umum atau inflamasi local ), dan reseksi bedah suatu bagian saluran cerna.
= Beberapa obat dihancurkan oleh sekresi asam lambung, Rute oral di kontraindikasikan pada klien yang mengalami gangguan neuromoskuler,striktur ( penyempitan ) esophagus dan lesi pada mulut.
= Obat oral tidak diberikan pada klien yang terpasang pengisap lambung, dan dikontraindikasiakn pada klien yang menjalani pembedahan atau tes tertentu.
= Klien tidak sadar atau bingung sehingga tidak mampu menelan atau mempertahankan obat dibawah lidah.
= Obat oral dapat mengiritasi lapisan saluran cerna , mengubah warna gigi, atau mengecap rasa yang tidak enak
2. Rute Parentral
Adalah memberikan obat dengan menginjeksinya kedalam jaringan tubuh, meliputi empat tipe utama injeksi yaitu :
a. Subkutan ( SC ), injeksi ke dalam jaringan dibawah lapisan dermis kulit.
b. Intradermal ( ID ), injeksi ke dalam dermis tepat dibawah epidermis.
c. Intramuskular ( IM ), injeksi ke dalam otot tubuh.
d. Intravena ( IV ), injeksi kedalam pembuluh darah / vena.

Keuntungan rute parentral
= Digunakan jika rute oral dikontraindikasikan.
= Absorbsi lebih cepat
= Infus IV memungkinkan pengantaran obat saat klien dalam kondisi kritis atau terapi jangka panjang

jika perfusi perifer buruk, rute IV lebih dipilih daripada injeksi.

Kerugian atau kontraindikasi.
= Resiko infeksi obat mahal, klien berulang kali di suntik.
= Rute SC, IM dan Intradermal dihindari pada klien yang cenderung mengalami pendarahan.
= Resiko kerusakan jaringan pada injeksi SC.
= Rute IM dan IV berbahaya karena absorbsi absorbsinya cepat.
= Rute ini menimbulkan cemas pada banyak klien , khususnys anak-anak..

3. Pemberian Topikal.
Adalah obat yang diberikan melalui kulit dan membrane mokusa dan menimbulkan efek local. Pemberian dilakukan dengan cara mengoleskan di suatu daerah kulit, memasang balutan yang lembab, merendam bagian tubuh dalam larutan tertentu.atau mandi dengan larutan yang sudah dicampur obat.
Efek sistemik timbul jika kulit klien tipis, konsentrasi obat tinggi atau jika obat bersentuhan dengan kulit dalam jangka waktu lama.
Obat juga dapat diberikan pada membrane mokusa. Dengan cara ini, obat diabsorbi lebih cepat. Perawat menggunakan metode ini dalam rangka pemberian obat melalui membrane mokusa seperti
1. Pemberian cairansecara langsung contoh meminta klien berkumur-kumur,mengusap tenggorokan.
2. Insersi obat kedalam rongga tubuh, contoh menempatkan sopusoturia pada rectum atau vagina.
3. Instilasi ( pemasukan lambat ) cairan kedalam rongga tubuh, contoh memasukan tetes telinga, hidung, dan memasukan cairan kedalam kandung kemih dan rectum.
4. Irigasi ( mencuci bersih ) rongga tubuh, contoh membilas mata, telinga, vagina, kandung kemih atau rectum dengan obat cair.
5. Penyemprotan , contoh memasukan obat kedalam hidung dan tenggorokan.

INHALASI.
Saluaran nafas bagian dalam memungkinkan area permukaan yang luas untuk absorbsi obat. Obat dapat diberikan melalui pasase oral, nasal, atau selang yang dipasang kedalam trakea. Obat inhalasi dapat menimbulkan efek local.

INHALASI NASAL.
Melalui hidung, menggunakan sebuah alat yang menghantar obat, seperti semprotan..
Obat lain yang diberikan dengan cara ini anatara lain anaestesi local, steroid dan oksigen.

INHALASI ORAL.
Digunakan untuk menghantar obat ke sel target atau organisme di parenkhim paru.
Obat selalu dihantar oleh alat yang di pegang ditangan pasien. Obat yang diberikan menggunakan inhaler yang dipegang ditangan disebar melalui sebuah semprot aerosol, uap atau bubuk yang masuk kedalam saluran udara di paru.

PEMBERIAN MELALUI ENDOTRAKEA ATAU TRAKEA.
Dalam situasi kedaruratan, jika klien tidak terpasang selang intravena, beberapa obat darurat dapat diberikan melalui selang yang telah ditempatkan kedalam trakea. Perawat yang turut dalam memberikan resusitasi secara khusus dilatih untuk memberikan obat dengan cara ini.

INTRA OKULER.
Dilakukan dengan cara menginsersi obat berbentuk cakram, yang mirip dengan sebuah lensa kontak dimasukan kedalam mata klien. Obat mata yang berbentuk cakram ini memiliki dua lapisan lunak luar yang didalamnya terdapat obat.Cakram di insersi kedalam mata klien, sangat mirip lensa kontak. Dapat bertahan selama satu minggu.


PROSES KEPERAWATAN DAN OBAT.

1. PENGKAJIAN.
Untuk menetapkan kebutuhan terhadap terapi obat dan respon potensial terhadap terapi obat, Perawat mengkaji banyak faktor.
a. Riwayat Medis.
Dapat menggambarkan indikasi atau kontraindikasi terhadap terapi obat.

b. Riwayat Alergi
Catat dan informasikan ke tim kesehatan penyebab alergi klien.

c. Data Obat.
Kaji informasi tentang setiap obat, baik cara kerja, tujuan, dosis normal,rute pemberian, efek samping dan implikasi keperawatan dalam pemberian dan pengawasan obat.

d. Riwayat Diet
Memberi keterangan tentang pola makan dan pilihan makanan.
Perawat dapat merencanakan penjadwalan dosis obat yang lebih efektif



e. Kondisi klien terkini.
Status fisik dan mental klien yang berkesinambungan, dapat menentukan apakah sebaikn ya obat diberikan dan cara pemberiannya.

f.Persepsi klien atau masalah koordinasi
Klien yang fungsi persepsi dan koordinasinya terbatas kemungkinan sulit menggunakan obat secara mandiri. Pelajari apakah ada anggota keluarga yang dapat membantu.

g.Sikap klien terhadap penggunaan obat.
Sikap klien terhadap penggunaan obat kemungkinan menunjukan ketergantungannya terhadap obat Untuk mengkaji sikap klien, perawat perlu mengobservasi prilaku klien yang mendukung bukti ketergantungan obat.

h.Pengetahuan klien dan pemahaman tentang terapi obat.
Dapat mempengaruhi keinginan atau kemampuanya dalam mengikuti suatu program pengobatan. Jika klien tidak mengetahui tujuan obat, penjadwalan dosisi yang teratur, metode pemberianb yang tepat, dan efek samping yang mungkin timbul maka akan memungkinkan klien tidak mematuhi program pengobatan.

i. Kebutuhan pembelajaran .
Jelaskan kembali kerja dan tujuan obat, efek samping yang akan timbul , teknik pemberian obat yang benar, dan cara mengingat jadwal pemberian obat.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN.
Contoh diagnosa keperawatan menurut Nanda.

a. Kurang pengetahuan tentang terapi obat yang berhubungan dengan :
= Kurang informasi dan pengalaman.
= Keterbatasan kognitif.
= Tidak mengensl sumber informasi.

b. Ketidak patuhan terhadap.terapi obat, yang berhubungan dengan
= Sumber ekonomi yangnterbatas.
= keyakinan tentang kesehatan.
= pengaruh budaya.

c. Penatalaksanan program terapeutik,yang tidak efektif berhubungan dengan :
= Terapi obat yang kompleks
= Pengetahuan yang kurang.



3. PERENCANAAN.
Perawat mengatur aktivitas perawatan untuk memastikan bahwa teknik pemberian obat aman.
Pada saat klien belajar menggunakan obat secara mandiri, perawat dapat merencanakan untuk dapat menggunakan semua sumber pengajaran yangn tersedia.
Libatkan anggota keluarga dalam pelaksanaannya.

4. IMPLEMENTASI
Intervensi keperawatan berfokus kepada pemberian obat yang aman dan efektif.
Intervensi dillakukan dengan menyiapkan obat secara cermat, memberikan dengan benar dan memberi klien penyuluhan.
Tulislah setiap program yang diberikan oleh dokter dengan lengkap, Program yang di transkripsi meliputi nama, kamar, no tempat tidur, dosis, waktu pemberian serta rute pemberiannya.

PEMBERIAN OBAT III



PEMBERIAN OBAT III






A. BERAT DAN KOMPOSISI BADAN

Ada hubungan langsung antara jumlah obat yang di berikan dan jumlah jaringan tubuh tempat obat di distribusikan. Kebanyakan obat diberikan berdasarkan berat dan komposisi tubuh dewasa. Perubahan komposisi tubuh dapat mempengaruhi distribusi obat secara bermakna. Seperti pada lansia, karena penuaan, jumlah cairan tubuh berkurang, sehingga obat yang dapat larut dalam air tidak dapat didistribusikan dengan baik dan konsentrasinya meningkat didalam darah.demikian juga dengan adanya peningkatan persentase lemak tubuh secara umum ditemukan pada lansia , membuat kerja obat menjadi lebih lama karena distribusi obat menjadi lebih lambat.

Semakin kecil berat badan klien , semakin besar konsentrasi obat di dalam jaringan tubuhnya, dan efek obat yang di hasilkan makin kuat. Lansia mengalami penurunan masa jaringan tubuh dan tinggi badan dan sering kali memerlukan dosis obat yang lebih rendah daripada klien yang lebih muda

B. DINAMIKA SIRKULASI

Obat lebih mudah keluar dari ruang intertisial ke dalam ruang intravascular Pembuluh darah dapat ditembus oleh kebanyakan zat yang larut, kecuali oleh partikel obat yang besar atau berikatan dengan protein serum. Konsentrasi sebuah obat pada sebuah tempat tertentu bergantung pada jumlah pembuluh darah dalam jaringan, tingkat vasodilatasi, atau vasokintriksi local dan kecepatan aliran darah kesebuah jaringan. Latihan fisik, udara yang hangat dan badan yang menggigil dapat mengubah sirkulasi local, jika klien melakukan kompres hangat pada tempat suntikan intramuskoler, maka akan terjadi vasodilatasi yang dapat meningkatkan distribusi obat.
Membran biologis berfungsi sebagai barier terhadap perjalanan obat. Barier darah otak hanya dapat ditembus oleh obat larut dalam lemak yang masuk ke dalam otak dan cairan cerebro spinal. Infeksi system saraf pusat perlu ditangani dengan antibiotika yang langsung di suntikan ke ruang subarakhnoid di medulla spinalis. Membran Plasenta merupakan barier yang tidak selektif terhadap obat. Agen yang larut dalam lemak dan tidak larut dalam lemak dapat menembus plasenta dan membuat janin mengalami deformitas ( kelainan bentuk ), depresi pernafasan dan lainnya.


C.IKATAN PROTEIN.

Derajat kekuatan ikatan obat dengan protein serum, misalnya albumin mempengaruhi distribusi obat. Kebanyakan obat terikat pada protein dalam tingkatan tertentu. Ketika molekul obat terikat pada albumin, obat tidak dapat menghasilkan aktivitas farmakologis, obat yang tidak berikatan atau bebas adalah bentuk aktif obat.
Lansia mengalami penurunan kadar albumin dalam aliran darah, kemungkinan disebabkan oleh perubahan fungsi hati, hal ini juga dapat terjadi pada klien yang mengalami / menderita penyakit hati dan pada klien malnutrisi. Akibatnya lansia dapat berisiko mengalami peningkatan aktivitas obat, toksisitas obat atau ke duanya.


1. Metabolisme

Setelah mencapai tempat kerjanya, obat di metabolisme menjadi bentuk tidak aktif, sehingga lebih mudah di ekskresi. Sebagian besar biotranformasi berlangsung dibawah pengaruh enzim yang mendetoksifikasi, mengurai, ( memecah ) dan melepas zat kimia aktif secara biologis. Kebanyakan biotranformasi berlangsung di dalam hati, walaupun paru-paru, ginjal, darah, dan usus juga memetabolisme obat
Hati sangat penting karena strukturnya yang khusus mengoksidasi dan mengubah banyak zat toksik, hati mengurai banyak zat kimia berbahaya sebelum di distribusi ke jaringan.
Penurunan fungsi hati yang terjadi seiring penuaan, atau karena penyakit hati mempengaruhi kecepatan eliminasi obat dari tubuh. Perlambatan metabolisme yang dihasilkan membuat obat terakumulasi di dalam tubuh, akibatnya klien lebih berisiko mengalami toksisitas obat. Apabila organ yang berpartisifasi dalam metabolisme obat mengalami perubahan, klien berisiko mengalami toksisitas obat.



2. EKSKRESI.
Setelah di metabolisme, obat keluar dari tubuh melalui ginjal, hati, paru dan kelenjar ekskorin.
Struktur kimia sebuah obat menentukan organ yang mengekskresinya. Senyawa gas dan senyawa volatile ( zat yang mudah menguap ) misalnya eter, dinitrogen monoksida, dan alcohol keluar melalui paru. Nafas dalam dan batuk membantu klien pasca operasi mengeliminasi gas anaestesi dengan lebih cepat.
Kelenjar ekskorin mengekskresi obat larut dalam lemak, ketika obat keluar melalui kelenjar keringat, kulit dapat mengalami iritasi, perawat membantu klien menjaga kebersihan personal hygine yang baik untuk menjaga kebersihan dan integritas kulit.
Apabila obat keluar melalui kelenjar mamae, bayi yang di susui dapat mengabsorbsi zat kimia obat tersebut, Ibu yang menyusui harus meneliti keamanan setiap obat. Resiko pada bayi yang menerima obat dan pada bayi yang mendapatkan obat harus di pertimbangkan dengan cermat.
Saluran cerna adalah jalur lain ekskresi obat. Banyak obat masuk kedalam sirkulasi hati untuk di pecah oleh hati dan di ekskrersi ke dalam empedu. Seterlah zat kimia masuk kedalam usus melalui saluran empedu, zat tersebut diabsorpsi kembali oleh usus. Faktor-faktor yang meningkatkan peristaltic, misalnya laksatif dan enema mempercepat ekskresi obat melalui feces, sedangkan faktor-0faktor yang memperlambat peristaltic, misalnya tidak melakukan aktivitas atau diit yang tepat, memperpanjang efek obat.
Ginjal adalah organ utama ekskresi obat, beberapa obat tidak mengalami tidak mengalami metabolisme yang luas dan masuk ,kedalam urine dalam bentuk yang relative sama. Obat lain menjalani biotrsanformasi di hati sebelum di ekskresi oleh ginjal. Apabila fungsi ginjal menurun, yang merupakan perubahan yang umum terjadi dalam penuaan, maka resiko toksisitas obat meningkat. Apabila ginjal tidak dapat mengeluarkan obat secara adekuat, dosis obat mungkin perlu di kurangi, apabila asupan cairan yang normal di pertahankan, obat akan di eliminasi dengan cepat, karena struktur kimia dan kerja fisilologisnya sebuah obat dapat menghasilkan lebih dari satu efek.

3. EFEK TERAPEUTIK

Merupakan respon fisiologis obat yang di harapkan atau yang di perkirakan akan timbul. Setiap obat yang di programkan memiliki efek terapeutik yang di inginkan.

4. EFEK SAMPING.

Sebuah obat di perkirakan akan menimbulkan efek sekunder yang tidak di inginkan. Efek samping ini mungkin tidak berbahaya atau bahkan menimbulkan cidera. Contoh penggunaan kodein dapat membuat seseorang menjadi konstipati, penggunaan teofilin dapat membuat klien sakit kepala dan pusing, efek samping ini dapat di sebut tidak berbahaya, tetapi jika pada penggunaan obat digoksin dapat mengakibatkan disaritmia jantung yang berakibat kematian. Jika pada pemberiannya dapat menimbulkan efek samping yang serius, hingga menghilangkan efek terapiutik obat maka dokter dapat menghentikan pemberian obat tersebut. Akibat efek samping tersebut, klien sering kali berhenti meminum obatnya tanpa berkonsultasi ke tenaga kesehatan.



5. EFEK TOKSIK
Terjadi setelah klien meminum obat berdosis tinggi dalam jangka waktu lama. Setelah lama menggunakan obat yang di tujukan untuk aplikasi ekternal atau setelah suatu obat berakumulasi di dalam darah akibat kerusakan metabolisme atau ekskresi.
Satu dosis obat dapat menimbulkan efek toksik pada beberapa klien. Jumlah obat yang berlebihan di dalam tubuh dapat menimbulkkan efek yang mematikan, tergantung pada kerja obat. Contoh morfin, sebuah analgesic narkotik, meredaklan nyeri dengan menekan sususnan syaraf pusat. Kadar toksik morfin menyebabkan depresi pernafasan yang berat dan berakibat pada kematian.

6. REAKSI IDIOSINKRATIK

Adalah yang meliputi klien bereaksi berlebihan, tidak bereaksi, atau bereaksi tidak normal terhadap obat, contoh klien yang menerima antihistamim, menjadi sangat gelisah atau sangat gembira, bukan mengantuk. Adalah tidak mungkin memperkirakan klien mana yang akan mengalami reaksi idiosinkratik.




7. REAKSI ALERGI.

Adalah respon lain yang tidak dapat di perkirakan terhadap obat.
Kekebalan tubuh seseorang dapat tersensitisasi terhadap dosis awal obat, jika obat di berikan secara berulang kepada klien, ia akan mengalami respon alergi terhadap obat, zat pengawet obat, atau metabolitnya. Dalam hal ini obat atau zat kimia bekerja sebagai antigen, memicu pelepasan antihistamin.
Alergi obat dapat bersifat ringan atau berat, gejala alergi bervariasi, tergantung pada individu dan obat. Contoh obat biasanya jenis antibiotika.
Reaksi alergi ringan seperti :
a). Urtikaria
Adalah erupsi kuli yang bentuknya tidak beraturan, meninggi, ukuran dan bentuk bervariasi, erupsi memiliki batas berwarna merah dan bagian tengahnya berwarna pucat.

b). Ruam
Adalah Vesikel kecil dan meninggi, biasanya berwarna merah,. sering kali tersebar di seluruh tubuh.,

c). Pruritus
Adalah gatal-gatal pada kulit, kebanyakan timbul bersama ruam.

d) Rinitis.
Adalah Inflamasi pada lapisan membrane mokusa hidung, menimbulkan bengkak dan pengeluaran rabas / cairan encer dan berair.

Reaksi alergi berat atau reaksi anafilaksis ditandai oleh konstriksi otot bronkiolus, edema faring dan laring, mengi berat dan sesak nafas , klien juga mengalami hipotensi berat sehingga memerlukan resusitasi darurat.

D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KERJA OBAT

1). Perbedaan Genetik.

Susunan genetic mempengaruhi biotranformasi obat . Pola metabolic dalam keluarga sering kali sama. Faktor genetic menentukan apakah enzim yang terbentuk secara alami ada untuk membantu penguraian obat . akibatnya anggota keluarga sensitive terhadap suatu obat.

2). Variabel Fisiologis
Perbedaan hormonal antara pria dan weanita mengubag metabolisme obat tertentu. Hormon dan obat saling bersaing dalam biotranformasi karena kedua senyawa tersebut terurai dalam proses metabolic yang sama .
Usia berdampak langsung pada kerja obat. Bayi tidak banyak memiliki enzim yang diperlukan untuk metabolisme obat normal.
Jika status nutrisi klien buruk, sel tidak dapat berfungsi normal, sehingga biotranformasi tidak berlangsung. Metabolisme obat bergantung pada nutrisi yang adekuat untuk membentuk enzim dan protein.
Setiap penyakit yang merusak fungsi organ yang bertanggung jawab untuk farmakokenitik normal juga merusak kerja obat. Perubahan integritas kulit, penurunan absorpsi atau motilitas saluran cerna, dan kerusakan fungsi ginjal dan hati hanya beberapa kondisi penyakit yang berhubungan dengan kondisi yang mengurangi kemanjuran obat atau membuat klien beresiko mengalami toksisitas obat.


3). Kondisi lingkungan.
Stres fisik dan emosi yang akan memicu respon hormonal yang pada akhirnya mengganggu metabolisme obat pada klien.
Radiasi ion menghasilkan efek yang sama dengan mengubah kecepatan aktivitas enzim.
Pajanan pada panas dan dingin dapat mempengaruhi respon terhadap obat. Pada klien hipertensi diberi obat vasodilator untuk untuk mengontrol tekanan darahnya, Pada cuaca panas dosis vasodilator perlu di kurangi karena suhu yang tinggi meningkatkan efek obat, sedangkan pada cuaca yang dingin cenderung meningkatkan vasokontriksi, sehingga dosis vasodilator perlu ditambah.

4). Faktor Psikologis
Sejumlah faktor psikologis mempengaruhi penggunaan obat dan respon terhadap obat. Sikap seseorang terrhadap obat berakar dari pengalaman sebelumnya atau pengaruh keluarga.
Melihat orang tua sering menggunakan obat=obatan dapat membuat anak menerima obat sebagi bagian dari kehidupan normalnya.
Makna obat atau signifikasi mengkonsumsi obat mempengaruhi respon klien terhadap terapi, sebuah obat
dapat digunakan sebagai cara untuk mengatasi rasa tidak aman., pada situasi ini klien bergantung pada obat sebagai media koping dalam kehidupan.Sebaliknya, jika klien kesal pada obat. kondisi fisik mereka, rasa marah dan sikap bermusuhan dapat menimbulkan reaksi yang di inginkan terhadap- obat. Obat sering kali memberi rasa aman. Penggunaan secara teratur obat tanpa resep atau obat yang di jual bebas misalnya vitamin, laksatif dan aspirin membuat orang merasa dapat mengontrol kesehatannya..
Perilaku perawat pada saat memberikan obat dapat memberikan dampak secara signifikan pada respon klien terhadap pengobatan. Apabila perawat memberikan kesan bahwa obat akan membantu, pengobatan kemungkinan dapat memberikan efek yang positif, sebaliknya jika sikap perawat kurang peduli saat klien merasa tidak nyaman, obat yang diberikan terbukti relatif tidak efektif.

5) Diet.
Interaksi obat dan nutrien dapat mengubah kerja obat atau efek nutrisi, contoh vitamin k ( terkandung dalam sayuran hijau berdaun ) merupakan nutrien yang melawan efek warfarin natrium, mengurangi efeknya pada mekanisme pembekuan darah. Minyak mineral menurunkan absorpsi vitamin larut dalam lemak. Klien membutuhkan nutrien tambahan ketika mengkonsumsi obat yang menurunkan efek nutrisi. Menahan konsumsi nutrien tertentu dapat menjamin efek terapeutik.