Senin, 22 November 2010

PEMBERIAN OBAT II




PEMBERIAN OBAT II



A. NOMENKLATUR DAN BENTUK OBAT



Suatu obat, atau medikasi, adalah zat yang digunakan dalam diagnosis, terapi, penyembuhan, penurunan atau di gunakan untuk pencegahan penyakit.
Anggota tim kesehatan menggunakan istilah obat dan medikasi untuk maksud yang sama, sedangkan orang awam biasanya mengartikan medikasi sebagai obat.

NAMA – NAMA OBAT


Setiap obat mempunyai beberapa nama. Nama kimia menjelaskan struktur kimia dari obat.
Nama generic merupakan nama obat " resmi " atau nama obat yang tidak hanya di miliki oleh pihak tertentu. Nama ini tidak dimiliki oleh suatu perusahaan farmasi ( obat ) tertentu dan diterima secara universal. Kini kebanyakan obat di resepkan dalam nama generic.
Nama dagang, nama merk, atau nama pabrik adalah nama yang digunakan pabrikdalam memasarkan obat, sebuah obat generikedapat memiliki nama dagang yang berbeda. Nama dagang memiliki symbol ® di sebelah kanan atas nama obat,yang mengindikasikan bahwa obat terdaftar .
Karena ada begitu banyak nama nama dagang untuk satu nama nama generic, maka nama generic diberikan terlebih dulu dalam huruf kecil, kemudian baru di ikuti dengan nama dagang yang paling umum dipakai didalam tanda kurung.
Dengan nama generic, nama akan menjadi lebih panjang dan sulit untuk disebutkan , nama dagang biasanya di mulai dengan huruf besar

KLASIFIKASI

Pemberi perawatan mengkatagorikan obat yang karakteristiknya sama berdasarkan klasifikasi obat tersebut.
Klasifikasi obat mengindikasikan efek pada system tubuh, gejala yang di hilangkan atau efek yang di inginkan.
Setiap golongan berisi obat yang di programkan untuk jenis masalah kesehatan yang sama. Komposisi fisik dan kimia obat dalam satu golongan tidak selalu sama, sebuahn obat dapat memiliki lebih dari satu golongan, contoh Asam mefenamat merupakan obat analgesic, antipiratik dan anti inflamasi
Perawat harus mengetahui karakteristik umum obat dalam setiap golongan. Setiap golongan obat memiliki implikasi keperawatan untuk pemberian dan pemantauan yang tepat.

BENTUK OBAT


Obat tersedia dalam berbagai bentuk atau preparat, bentuk obat menentukan rute pemberian obat.


Kaplet

Bentuk dosis padat, untuk pemberian per oral, bentuk seperti kapsul dan bersalut sehingga mudah di telan.

Kapsul

Bentuk dosis padat, untuik pemberian per oral, obat dalam bentuk bubuk, cairan, atau minyak dan di bungkus oleh selongsong gelatin, kapsul diwarnai untuk membantu identitas produk.

Eliksir

Cairan jernih berisi air dan atau alcohol, dirancang untuk penggunaan obat per oral, biasanya ditambah pemanis.

Tablet enteric bersalut

Tablet untuk pemberial per oral, yang dilapisi bahan yang tidak larut dalam lambung, lapisan larut di dalam usus, tempat obat diabsorpsi.

Ekstrak

Bentuk obat pekat yang dibuat dengan memindahkan bagian aktif obat dari komponen lain obat tersebut ( misalnya , eksdtrak cairan adalah obat yang di buat menjadi larutan dari sumber sayur-sayuran.)

Gliserit

Larutan obat yang dikombinasi dengan gliserin untuk penggunan luar, berisi sekurang-kurangnya 50 % gliserin.


Obat gosok ( liniment )

Preparat biasanya mengandung alcohol , minyak, atau pelembut sabun yang diolesi pada kulit.



Losion

Obat dalam cairan, suspensi yang dioles pada kulit untuk melindunginya.


Salep

Semisolid (agak padat ), preparat yang dioles pada kulit, biasanya mengandung satu atau lebih obat.

Pasta

Preparat semisolid, lebih kental dan lebih kaku daripada salap, diabsorpsi melalui kulit lebih lambat daripada salap.

Pil

Bentuk dosis padat berisi satu atau lebih obat, di bentuk ke dalam bentuk tetesan, lonjong atau bujur, pil yang sesungguhnya jarang digunakan karena telah digantikan dengan tablet.


Larutan

Preparat cairan yang dapat digunakan per oral, parenteral, ataua secara eksternal, dapat juga dimasukan kedalam organ atau ronnga tubuh ( missal irigasi kandung kemih ) berisi air dan mengandung satu atau lebih senyawa terlarut, harus steril dalam penggunaan parentral.

Supositoria

Bentuk dosis padat yang dicampur dengan gelatin dan dibentuk dalam bentuk peluru untuk dimasukan kedalam rongga tubuh ( rectum atau vagina ), meleleh saat mencapai suhu tubuh , melepas obat saat di absorpsi.

Suspensi

Partikel obat yang dibelah sampai halus dan larut dalam media cair, saat dibiarkan partikel berkumpul dibagian bawah wadah, umumnya merupakan obat oral dan tidak diberikan per intra vena.

Sirup

Obat yang larut dalam larutan gula pekat, mengandung perasa yang membuat obat terasa lebih enak.

Tablet

Bentuk dosis bubuk yang dikompresi kedalam cakram atau silinder yang keras, selain obat utama mengandung zat pengikat ( perekat untuk membuat bubuk menyatu ), zat pemisah ( untuk meningkatkan pelarutan tablet ), lubrikan ( supaya mudah dibuat pabrik ) dan zat pengisi ( supaya ukuran tablet cocok )

Cakram atau lempeng transdermal

Obat berada dalam cakram(disk) atau patch membrane semipermeabel yang membuat obat dapat diabsorpsi perlahan-lahan melalui kulit dalam periode waktu yang lama.

Tingtura

Alkohol atau larutan obat



Tablet isap ( troche, lozenge )

Bentuk dosis datar, bundar, mengandung obat , cita rasa , gula, dan bahan perekat cair, larut dalam mulut untuk melepas obat











B. UNDANG-UNDANG DAN STANDAR OBAT




1. STANDAR OBAT.

Perangkat Standar obat yang dipakai di Amerika serikat adalah United states Pharmacopeia pada tahun 1820.
US Pharmacopeia ( UPS ) dan National Formulary ( NF ) adalah sumber yang berwenan g dalam standar obat dimasa kini, di revis setiap 5 tahun oleh sekelompok ahli dalam keperawatan, farmasi, farmakologi, kimia dan mikrobiologi.
Obat-obat yang termasuk dalam dalam buku ini telah memenuhi satndar yang tinggi dalam penggunaan terapeutik, keamanan klien, kualitas, kemurnian, kekuatan , keamanan, kemasan dan bentuk dosisnya. Obat-obat yang memenuhi standar ini memiliki USP setelah nama resminya.,
International Pharmacopeia, pertama kali diterbitkan pada tahun 1951 oleh WHO, berisi tentang dasar dari standar untuk kekuatan dan komposisi dalam penggunaanannya di seluruh dunia diterbitkan dalam bahasa Inggris, Spanyol, dan perancis. Direvisi setiap 5 tahun.

2. UNDANG –UNDANG DAN KONTROL.

Undang- undang obat di Amerika Serikat
1.) Tahun 1906 . Pure Food and Drug Act.
Merancang standart resmi obat-obatan , menspesipikasikan pelabelan obat.

2.) Tahun 1912 Sherley Amandement
Melarang pabrik membuat klaim yang curang tentang kemanjuran dan efek terapeutik obat.

3.) Tahun 1914 Harrison Narcotic Act.
Secare resmi mengklasifikasikan obat-obatan yang diyakini membentuk kebiasaan seperti narkotik, mengatur pemasokan , pembuatan, penjualan dan penggunaan zat narkotik.

4.) Tahun 1938 Federal Food, Drug, and Cosmetic Act
Menambahkan Homeopphatic Pharmacopeia Of the United States sebagai standar obat ketiga, mewajibkan preparat obat diakui aman oleh Food and Drug Administration sebelum dipasarkan, menguraikan criteria lebih lanjut pelabelan obat.

5.) Tahun1945 Amandement to the Food and Drug Act
Memberi sertifikasi uintuk produk biologis yang digunakan sebagai obat ( missal : insulin, antibiotic ) berdasarkan kelompok tertentu , mengizinkan .

6.) Tahun 1952 Durham – Humprey
Membedakan obat resep ( legenda ) dari obat tanpa resep.

7.) Tahun 1962 Amandement Kefauver – Harris
Memberi FDA kuasa untuk menyelia produksi obat untuk menjamin keamanan dan kemamnjuran dan menetapkan nama obat yang resmi, memberi control yang lebih besar terhadap obat-obatam yang diselidiki..

8.) Tahun 1970. Comprehensive Drug Abuse Prevention and Control Act.
Menetapkan control yang ketat terhadap pembuatan dan distribusi obat yang dikontrol ( kepemilikan zat yang dikontrol secara tidak sah tanpa resep ). Menetapkan program pemerintah untuk meningkatkan pencegahan dan penanganan ketergantungan obat

DI INDONESIA



UNDANG-UNDANG KESEHATAN NO. 23 TAHUN 1992



BAB I KETENTUAN UMUM., PASAL 1

Pada baris ke 12 tentang Zat Adiktif adalah bahan yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan fisik.



Pada Baris ke 13 tentang Pekerjaan Ke Farmasian adalah pembuatan termasukpengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat. Pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional.





3. PENGGUNAAN OBAT NON TERAPEUTIK.


Meskipun ada control hukum , beberapa orang menggunakan obatbukan untuk tujuan yang benar. Penggunaan obat secara tidak bijaksana menimbulkan masalah kesehatan yang serius bagipengguna, keluarga dan komunitasnya. Pada masa lalu penggunaan yang keliru ( misuse ) atau penyalah gunaan obat ( drug abuse ) berhubungan dengan penggunaan untuk memperolehn efek terapeutik, misalnya untuk meredakan rasa nyeri atau menurunkan rasa cemas, Saat ini ada faktor lain seperti tekanan teman sebaya, rasa ingin tahu, dan pencarian kesenangan merupakan motivator penggunaan obat yang tidak terapeutik. Obat-obat tersebut seperti heroin, kokain, dan alcohol.
Perawat memiliki kewajiban etis dan hukum untuk memahami masalah individu yang menyalahkangunakan obat. Ketika merawat klien yang di duga menyalahgunakan obat atau mengalami ketergantungan obat, perawat harus menyadari nilai dan sikap mereka sendiri terhadap penggunaan secara sengaja zat yang berpotensi berbahaya.
Perawat tidak dapat membangun hubungan yang terapeutik dengan klien, jika nilai-nilai pribadinya menghambatnya menerima atau memahami kebutuhan klien.
Perawat harus memiliki pengetahuan tentang perubahan fisik, psikologi, dan social akibat penyalahgunaan obat, sehingga perawat dapat mengidentifikasi klien yang memili9ki masalah dengan obat.









Istilah yang dikaitkan dengan penggunaan obat non terapeuitik



a. PENYALAHGUNAAN.



Adalah Pola mal adaptif penggunaan zat diindikasikan oleh setidaknya salah satu hal berikut dalam periode 12 bulan :


1. Kembali menggunakan zat yang mengakibatkan kegagalan dalam memenuhi kewajiban peran utama di tempat kerja, sekolah atau di rumah ( misal sering tidak masuk kerja, penampilan buruk. )

2. Kembali menggunakan zat dalam situasi yang membahayakan secara fisik.



3. Terlibat kembali dalam masalah hukum.



4. Tetap menggunakan zat walaupun terus memiliki masalah interpersonal atau social yang diakibatkan atau di perburuk oleh efek zat.

b. K ETERGANTUNGAN



Adalah Sedikitnya 3 ( tiga ) dari pernyataan berikut terjadi dalam periode 12 bulan :



1. Zat sering dikonsumsi dalam jumlah lebih besar selama periode waktu yang lebih panjang daripada yang di inginkan individu tersebut.

2. Keinginan kuat atau satu kali atau lebih berupaya mengurangi atau mengontrol penggunaan zat tetapi tidak berhasil.

3. Meluangkan banyak waktu untuk mendapatkan, menggunakan zat, atau menjadi pulih dari zat.

4. Gejala intoksikasi atau putus zat ( withdrawal ) sering muncul ketika klien diharapkan dapat memenuhi kewajiban peran yang utama di tempat kerja, sekolah atau di rumah.

5. Aktivitas social, pekerjaan, atau rekreasi yang penting tidak dilakukan atau berkurang akibat penggunaan zat.

6. Terus menggunakan zat walau pun dia sadar dirinya memiliki masalah social, psikologis, atau fisik yang tetap atau berulang, yang diakibatkan atau di perburuk oleh penggunaan zat.

7. Toleransi terhadap zat nyata, semakin meningkat kan jumlah zat untuk mencapai intoksikasi atau efek yang di inginkan, atau pada penggunaan berlanjut dalam jumlah sama, efek zat tidak timbul.




PEMBERIAN OBAT


PEMBERIAN OBAT

 


 
I. SIFAT KERJA OBAT

 
.Pendahuluan.

 
Suatu obat yang diminum per-oral akan melalui tiga fase yaitu farmasetik ( disolusi ), farmakokinetik dan farmakodinamik.
Dalam fase farmasetik, obat berubah menjadi larutan sehingga dapat menembus membrane biologis, Jika obat di berikan melalui rute subkutan, intramuskuler atau intravena, maka tidak terjadi fase farmasetik tertapi langsung pada fase kedua yaitu farmakokinetik yang terdiri dari empat proses ( sub fase ) yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme atau biotransformasi dan ekskresi.
Dalam fase ketiga atau farmakodinamik, terjadi respon biologis atau fisiologis.

 
A.FASE FARMASETIK


 

Sekitar 80% obat diberikan melalui mulut, oleh karena itu, farmasetik adalah fase pertama dari kerja obat. Dalam saluran gastrointestinal, obat – obat perlu dilarutkan agar dapat diabsorpsi. Obat dalam bentuk padat ( tablet atau pil ) harus didisintegrasi menjadi partikel –paritikel kecil supaya dapat larut kedalam cairan, proses ini dikenal sebagai disolusi
Tidak 100% dari sebuah tablet merupakan obat. Ada bahan pengisi dan pelembam yang dicampurkan dalam pembuatan obat sehingga obat dapat mempunyai ukuran tertentu dan mempercepat disolusi obat tersebut. Beberapa tambahan dalam obat seperti ion kalium(k) dan natrium(na) dalam kalium penicillin dan natrium penicillin, meningkatkan penyerapan dari 
obat tersebut. Penicillin sangat buruk diabsorpsi dalam saluran gastrointestinal,karena adanya asam lambung, dengan penambahan kalium atau natrium kedalam peniciliin , maka obat lebih banyak diabsorbsi .

 
Disintegrasi adalah pemecahan tablet atau pil menjadi partikel –partikel yang lebih kecil, dan Disolusi adalah melarutnya partikel –partikel yang lebih kecil itu kedalam cairan gastrointestinal untuk diabsorbsi.

 
Rate limiting adalah waktu yang dibutuhkan oleh sebuah obat untuk berdisintegrasi dan sampai menjadi siap untuk diabsorbsi tubuh, faktor yang memperlambat disintegrasi obat antara lain faktor usia, bentuk obat, makanan dan asam lambung itu sendiri.

 

B. FARMAKOKINETIK


 

Adalah proses pergerakan obat untuk mencapai kerja obat, meliputi empat proses yaitu absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi.
1. Proses Absorbsi
Adalah pergerakan partikel-partikel obat dari saluran gastrointestinal kedalam cairan tubuh melalui absorbsi pasif, absorbsi aktif dan pinositosis.
Kebanyakan obat oral diabsorbsi diusus halus melalaui kerja permukaan villi mokusa yang luas, Jika sebagian dari villi berkurang , karena pengangkatan sebagian dari usus halus maka absorbsi juga berkurang.

Absorbsi pasif umumnya terjadi melalui difusi ( pergerakan dari konsentarsi tinggi ke konsentrasi rendah ), dengan proses difusi maka obat tidak memerlukan energi untuk menembus membrane.

Absorbsi aktif membutuhkan karier ( pembawa ) untuk bergerak melawan perbedaan konsentrasi. Sebuah enzim atrau protein dapat membawa obat –obat menembus membrane. Pinositosis berarti membawa obat menembus membrane dengan proses menelan.

 

Membran gastrointestinal terutama terdiri dari lipid ( lemak )dan protein, sehingga obat yang larut dalam lemak cepat menembus membrane gastrointestinal. Obat –obat yang larut dalam air membutuhkan karier , baik berupa enzim maupun protein untuk melalui membrane. Partikel-partikek besar dapat menembus membrane jika telah tidak bermuatan ( non ionized, tidak bermuatan positif atau negatif ).Obat-obat asam lemah seperti aspirin menjadi kurang bermuatan didalam lambung dan aspirin melewati lambung dengan mudah dan cepat. Asam hidroklorida merusak beberapa obat, seperti penicillin G, oleh karena penicillin oral diperlukan dalam dosis besar karena sebagian hilang akibat cairan lambung.
Absorbsi obat dipengaruhi oleh :
-Aliran darah
-Rasa nyeri
-Stress
-Kelaparan
-Makanan.
-Ph

Obat-obat yang diberikan secara intramuskuler ( im )dapat diabsorbsi lebih cepat di otot-ototyang memiliki lebih banyak pembuluh darah, seperi deltoid, daripada otot-otot yang memiliki lebih sedikit pembuluh darah sehingga absorbsi lebih lambat pada jaringan yang demikian.

 
Beberapa obat tidak langsung masuk kedalam sirkualsi sistemik setelah diabsorbsi tetapi melewati lumen usus masuk kedalam hati, memalui vena porta.
Didalam hati, kebanyakan obat dimetabolisme menjadi bentuk yang tidak aktif untuk di ekskresikan , sehingga mengurangi jumlah obat yang aktif. Proses ini dimana obat melewati hati terlebih dahulu disebut sebagai efek first-pass atau first pass hepatic.
Contoh obat seperti warfarin dan morfin

 
2. Proses Distribusi


 
Adalah Proses dimana obat menjadi berada dalam cairan tubuh dan jaringan tubuh.
Distribusi obat dipengaruhi oleh Aliran darah, Afinitas ( kekuatan penggabungan ) terhadap jaringan dan efek pengikatan dengan protein.
Ketika obat didistribusikan didalam plasma, kebanyakan berikatan dengan protein ( terutama Albumin ) dalam derajat ( persentasi ) yang berbeda-beda. Obat-obat yang lebih besar dari 80% berikatan dengan protein dikenal sebagai obat-obat yang berikatan dengan protein, contoh obat adalah diazepam ( valium ) yaitu sekitar 98% berikatan dengan protein

Bagian obat yang berikatan bersifat inaktif, dan bagian obat yang selebihnya yang tidak berikatan dapat bekerja bebas.
Hanya obat-obat yang bebas atau yang tidak berikatan dengan protein yang bersifat aktif dan dapat menimbulkan respon farmakologik .
Dengan menurunnya kadar obat bebas dalam jaringan , maka lebih banyak obat yang berada dalam ikatan dibebaskan dari ikatannya dengan protein untuk menjaga keseimbangan dari obat yang dalam bentuk bebas.
Jika ada dua obat yang berikatan tinggi dengan protein diberikan bersama-sama maka terjadi persaingan untuk mendapatkan tempat pengikatan dengan protein, sehingga lebih banyak obat bebas yang dilepaskan kedalam sirkulasi .

Demikian pula, jika kadar protein yang rendah menurunkan jumlah tempat pengikatan dengan protein ,sehingga meningkatkan jumlah obat bebas dalam plasma. Dengan demikian dalam hal ini dapat terjadi kelebihan dosis, karena dosis obat yang diresepkan dibuat berdasarkan persentase dimana obat itu berikatan dengan protein.
Jadi penting sekali untuk memeriksakan persentase pengikatan dengan protein dari semua obat –obat yang diberikan kepada klien untuk menghindari toksisitas obat.,

 
Seorang Perawat juga harus memeriksa kadar protein plasma dan albumin plasma klien karena penurunan protein akan menurunkan tempat pengikatan dengan protein, sehingga memungkinkan lebih banyak obat bebas dalam sirkulasi. Tergantung dari obat-obat yang diberikan, akibat dari hal ini dapat mengancam nyawa klien.
Abses,eksudat, kelenjar dan tomor juga menggaggu distribusi obat, obat antiobiotika tidak dapat didistribusikan dengan baik pada tempat abses dan eksudat.

 
3. METABOLISME ATAU BIOTRANSFORMASI.

 


Hati merupakan tempat utama untuk metabolisme. Kebanyakan obat di inaktifkan oleh enzim-enzim hati dan kemudian di ubah atau ditransformasikan oeh enzim-enzim hati menjadi metabolit inaktif atau zat yang larut dalam air untuk dieksresikan. Tetapi , beberapa obat ditranformasikan menjadi metabolit aktif , menyebabkan peningkatan respon farmakologik. Peyakit-penyakit hati seperti sirosis dan hepatitis mempengaruhi metabolisme obat.

Waktu paruh, dilambangkan dengan t ½, dari suatu obat dalah waktu yang dibutuhkan oleh separuh konsentrasi obat untuk di eliminasi.
Metabolisme dan eliminasi mempengaruhi waktu wakltu paru obat, pada klien dengan kelainan fungsi hati dan ginjal , wakrtu paruh obat menjadi lebih panjang dan lebih sedikit obat untuk dimetabolisme dan di eliminasi.

 
4.EKSKRESI ( ELIMINASI )


 


Rute utama dari eliminasi obat adalah melalui ginjal, rute –rute lain meliputi empedu, feses, paru-paru, saliva, keringat, dan asi ibu.
Obat bebas, yang tidak berikatan yang larut dalam air, dan obat obat-obat yang tidak diubah, difiltrasi oleh ginjal.
Obat-obat yang berikatan yang berikatan dengan protein tidak dapat di filtrasi oleh ginjal. Sekali obat yang dilepaskan ikatannya dengan protein, maka obat menjadi bebasdan akhirnya akan diekskresikan melalui urin


FARMAKODINAMIK

 

Adalah mempelajari efek obat terhadap fisiologis dan biokimia seluler dan mekanisme kerja obat.
Respon obat dapat menyebabkan efek fisiologis primer atau sekunder atau kedua-duanya.

Efek prmer adalah efek yang di inginkan, dan efek sekunder bias di inginkan atau tidak, contoh obat dengan efek primer dan sekunder adalah adalah difenhidramin ( benadryl )

Suatu antihistamin. Efek primernya adalah untuk mengatasi gejala-gejala alergi, dan efek sekundernya adalahpenekanan susunan sarap pusat yang menyebabkan rasa kantuk.efek sekunder ini tidak di inginkan jika sedang mengendarai mobil, sepeda motor.

OKSIGENASI. II



OKSIGENASI. II




FISIOLOGI PERNAPASAN.



Sebagian besar sel dalam tubuh memperoleh energi dari reaksi kimia yang melibatkan oksigen dan pembuangan karbondioksida.
Pertukaran gas pernafasan terjadi antara udara di lingkungan dan darah.
Tiga langkah proses oksigenasi, yaitu Ventilasi, Perfusi dan Difusi.
Supaya pertukaran gas dapat terjadi, organ, saraf, dan otot pernafasan harus utuh dan sistem saraf pusat mampu mengatur siklus pernafasan.

STRUKTUR DAN FUNGSI.



Pernapasan dapat berubah karena kondisi atau penyakit yang mengubah struktur dan fungsi paru. Otot-otot pernafasan, ruang pleura dan alveoli sangat penting untuk ventilasi, perfusi dan pertukaran gas pernafasan..




VENTILASI.



Ventilasi adalah proses untuk menggerakkan gas ke dalam dan keluar paru-paru.
Ventilasi membutuhkan koordinasi otot paru dan thoraks yang elastis dan persarafan yang utuh. Otot pernafasan inspirasi utama adalah diafragma, dipersarafi oleh saraf frenik yang keluar dari medulla spinalis pada vertebra servikal ke empat.

KERJA PERNAPASAN.



Pernapasan adalah upaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan membuat paru berkontraksi.
Kerja pernapasan di tentukan oleh tingkat kompliansi paru, tahanan jalan napas, keberadaan ekspirasi yang aktif dan penggunaan otot-otot Bantu pernapasan

Kompliansi merupakan kemampuan paru distensi atau mengembang sebagai respon terhadap tekanan intraalveolar.
Kompliansi menurun pada penyakit seperti edema polmunar, intertisial, fibrosis pleura, dan kelainan struktur traumatic atau konginetal seperti kifosis atau fraktur iga.
Surfaktan merupakan zat kimia yang diproduksi diparu oleh sel tipe dua alveolar dan mencegahnya dari kolaps.

Tahanan jalan napas merupakan perbedaan tekanan antara mulut dan alveoli terkait dengan kecepatan aliran gas yang di inspirasi.
Tahanan jalan napas dapat mengalami peningkatan akibat obstruksi jalan nafas pada penyakit jalan napas sperti asma dan edema trakeal,iika tahanan meningkat, jumlah udara yang melalui jalan napas anatomis menurun.


Ekspirasi merupakan proses pasif normal yang bergantung kepada property recoil elastis dan membutuhkan sedikit kerja otot atau tidak sama sekali.
Rekoil elastis dihasilkan oleh serabut elastis dijaringan paru dan oleh tegangan permukaan dalam cairan yang melapisi alveoli.

Otot Bantu pernapasan dapat meningkatkan volume paru selama inspirasi, klien yang mengalami penyakit pulmonar obstruksi kronik, khususnya emfisiema sering kali menggunakan otot ini untuk meningkatkan vulome paru dengan cara adanya peningkatan klavikula selama inspirasi.

Kompliansi yang meningkat, tahanan jalan napas yang meningkat, ekspirasi yang aktif atau penggunaan otot Bantu napas meningkatkan kerja pernafasan, menyebabkan penggunaan energi meningkat. Untuk memenuhi penggunaan energi ini, tubuh meningkatkan kecepatan metabolisme dan kebutuhan akan oksigen, sama seperti eliminasi karbon dioksida.
Rangkaian ini merupakan siklus sebab akibat pada klien yang mengalami kerusakan ventilasi.


VOLUME PARU



Volume paru normal diukur melalui pemeriksaan fungsi pulmonar.
Spirometri mengukur volume udara yang memasuki atau meninggalkan paru-paru.
Variasi volume paru dapat dihubungkan dengan status kesehatan, seperti kehamilan, latihan fisik, obesitas, atau kondisi paru yang obstruktif atau restriktif.
Jumlah surfaktan , tingkat kompliansi dan kekuatan otot pernafasan mempengaruhi tekanan dan volume didalam paru-paru.

TEKANAN



Gas bergerak kedalam dan keluar paru karena ada perubahan tekanan.
Tekanan intrapleura bersifat negative atau kurang daripada tekanan atmosfir. Yakni sekitar 760 mmhg pada permukaan laut.
Supaya udara mengalir kedalam paru-paru, maka tekanan intrapleura harus lebih negative, dengan gardioen tekanan antara atmosfir dan alveoli.

PERFUSI



Fungsi utama surkulasi paru adalah mengalirkan darah ke dan dari membrane kapiler alveoli sehingga dapat berlangsung pertukaran gas.
Sirkulasi pulmonary merupakan suatu reservoar untuk darahnya sehingga paru dapat meningkatkan vulome daranya tanpa peningkatan tekanan dalam arteri atai vena pulmonar yang besar. Sirkulasi pulmonary juga berfungsi sebagai filter, yang menyaring trombos kecil sebelum trombos tersebut mencapai organ-organ vital.





SIRKULASI PULMONAR.


Sirkulasi pulmonar dimulai pada arteri pulmonary yang menerima darah vena yang membawa campuran oksigen dari ventrikel kanan. Aliran darah yang melalui sistem ini bergantung pada kemampuan pompa ventrikel kanan , yang mengeluarkan darah sekitar 4 s.d 6 ltr/mnt
Darah mengalir dari arteri pulmonary melalui arteriol pulmonary ke kapiler pulmonar tempat darah kontak dengan membrane kapiler alveolar dan berlangsung pertukaran gas pernapasan .
Darah yang kaya oksigen kemudian bersirkulasi melalui venula pulmonar dan vena pulmonar kembali ke atrium kiri

DISTRIBUSI



Tekanan dalam sistem sirkulasi pulmonar adalah rendah jika dibandingkan dengan tekanan dalam sirkulasi sistemik. Tekanan arteri sistolik pulmonary yang normal antara 20 dan 30 mmhg, tekanan diastolic kurang dari 12 mm hg dan tekanan rata-rata kurang dari 20 mmhg.
Dinding pembuluh darah pulmonary lebih tipisa daripada dinding pembuluh darah didalam sirkulasi sistemik dan berisi lebih sedikit otot halus karena tekanan dan tahanan yang rendah.
Paru-paru menerima curah jantung total dari ventrikel kanan dan tidak meneruskan aliran darah dari satu daerah kedaerah lain, kecuali pada kasus hipoksia alveolar.


PERTUKARAN GAS PERNAPASAN.


Gas pernafasan mengalami pertukaran di alveoli dan kapiler jaringan tubuh .Oksigen di transfer dari paru-paru ke darah dan karbon dioksida dari darah ke alveoli untuk dikeluarkan sebagai prudok sampah.
Pada tingkat jaringan, oksigen ditranfer dari darah ke jaringan, dan karbon dioksida ditransfer dari jaringan darah untuk kembali ke alveoli dan dikeluarkan.
Transfer ini bergantung pada proses difusi.

DIFUSI.



Difusi merupakan gerakan molekol dari suatu daerah dengan konsentrasi yang lebih tinggi ke daerah dengan konsentrasi yang lebih rendah.
Difusi gas pernafasan terjadi di membrane kapiler alveolar dan kecepatan difusi dapat dipengaruhi oleh ketebalan membrane.
Peningkatan ketebalan membrane merintangi proses difusi karena hal tersebut membuat gas memerlukan waktu lebih lama untuk melewati membrane tersebut.



TRANSPORTASI OKSIGEN


Sistem transpotasi oksigen terdiri dari sistem paru dan sistem kardiovaskular.
Proses penghantaran ini bergantung pada jumlah oksigen yang masuk ke paru-paru ( ventilasi ), aliran darah ke paru-paru dan jaringan ( perfusi ) , kecepatan difusi dan kapasitas membawa oksigen.
Kapasitas darah untuk membawa oksigen di pengaruhi oleh jumlah oksigen yang larut dalam plasma, jumlah hemoglobin, dan kecendrungan hemoglobin untuk berikatan dengan oksigen.
Jumlah oksigen yang larut dalam plasma relative kecil, yakni hanya sekitar 3%. Sebagian besar oksigen dsitranportasi oleh hemoglobin.
Hemoglobin berfungsi sebagai pembawa oksigen dan karbon dioksida. Molekul hemoglobin bercampur dengan oksigen untuk membentuk oksihemoglobin.
Pembentukan oksihemoglobin dengan mudah berbalik ( reversible ), sehingga memungkinkan hemoglobin dan oksigen berpisah, membuat oksigen menjadi bebas. Sehingga oksigen bisa masuk kedalam jaringan.

TRANSPORTASI KARBON DIOKSODA.



Karbon dioksida berdifusi ke dalam sel-sel darah merah dan dengan cepat dihidrasi menjadi asam karbonat ( H2CO3 ) akibat adanya anhidrasi karbonat. Asam karbonat kemudian berpisah menjadi ion hidrogen ( H+ ) dan ion bikarbonat ( HCO3 ).
Ion hydrogen di buffer oleh hemoglobin dan HCO3 berdifusi ke dalam plasma.
Selain itu beberapa karbon dioksida yang ada dalam sel darah merah bereaksi dengan kelompok asam amino, membentuk senyawa karbamino. Reaksi ini dapat terjadi dengan cepat tanpa adanya enzim. Hemoglobin yang berkurang ( deoksihemoglobin ) dapat bersenyawa dengan karbon dioksida dengan lebih mudah daripada oksihemoglobin.
Dengan demikian , darah vena m,entransportasi sebagian besar karbon dioksida.

PENGATURAN PERNAPASAN.



Tujuan utama pengaturan pernapasan ialah mensuplai kebutuhan oksigen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Pengaturan pernapasan meningkatkan pengeluaran karbon dioksida , hasil proses metabolisme tubuh. Proses ini menentukan status asam dan basa tubuh.
Pernapasan dikendalikan oleh pengaturan saraf dan kimiawi. Pengaturansaraf melibatkan sistem saraf pusat, pengontrolan frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan.
Penagturan kimiawi melibatkan kerja zat-zat kimia, seperti ion karbon dioksida dan hydrogen dengankecepatan dan kedalaman pernapasan.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OKSIGENASI.



Keadekuatan sirkulasi, ventilasi, perfusi, dan transport gas pernapasan ke jaringan dipengaruhi oleh empat faktor yaitu
1. Fisiologis
2. Perkembangan
3. Perilaku

4. Lingkungan.



AD.I.FAKTOR FISIOLOGIS



Setiap kondisi yang mempengaruhi fungsi kardiopulmonar secara langsung akan mempengaruhi kemampuan tubuh memenuhi kebutuhan oksigen .
Klasifikasi umum gangguan jantung meliputi ketidakseimbangan konduksi, kerusakan fungsi valvular, hipoksia miokard, kondisi-kondisi kardiopmiopati, dan hipoksia jarinagn perifer.
Gangguan pernapasan meliputi hiperventilasi, hipoventilasi, dan hipoksia.
Proses fisiologis lain yang mempengaruhi proses oksigenasi pada klien termasuk perubahan yang mempengaruhi kapasitas darah untuk membawa oksigen seperti : Anemia, peningkatan kebutuhan metabolisme, seperti kehamilan, demam dan infeksi.
Dan perubahan yang mempengaruhi gerakan dinding dada atau sistem saraf pusat.

AD.II FAKTOR.PERKEMBANGAN



Tahap perkembangan klien dan proses penuaan yang normal mempengaruhi oksigenasi jaringan.
1. Bayi Prematur
2. Bayi dan Todler
3. Anak usia sekolah dan remaja.
4. Dewasa muda dan dewasa pertengahan.
6. Lansia.


AD.III. FAKTOR PERILAKU



1.Nutrisi

2. Latihan fisik

3. Merokok

4. Penyalahgunaan substansi.



AD.!V . FAKTOR LINGKUNGAN



1. Ansietas