Selasa, 23 November 2010

REPRODUKSI



 
REPRODUKSI

 

Reproduksi merupakan kegiatan organ kelamin laki* dan perempuan yg khusus yaitu Testis menghasilkan spermatozoid (sel kelamin laki*) dan Ovarium menghasilkan sel kelamin perempuan (sel Ovum) untuk menghasilkan keturunan.

 
Organ Reproduksi Wanita

 


 


 

Organ* Genital (wanita) Luar (Vulva= organ seksual perempuan yg paling luar) :

  1. Tundun (Monsveneris), organ seksual perempuan yg paling luar, tempat ditumbuhi rambut kemaluan.

 

  1. Labiya Mayora, bagian terluar dari mulut vagina yg ditumbuhi oleh bulu labia minora dibelakang labia mayor yg banyak mengandung pembuluh darah dan syaraf.

 

  1. Labiya Minora, Bagian atas labia minora bersatu membentuk klitoris dan bagian bawah membentuk vestibulum (dimana terletak lubang kencing)

 

  1. Klitoris, sebuah benjolan daging kecil yg paling peka dari seluruh alat kelamin perempuan. Klitoris banyak mengandung pembuluh darah dan syaraf.

 

  1. Vestibulum (serambi), terdpt liang senggama (introetus vagina) dan meatus uretra eksternal

 

  1. Hymen (selaput dara), yaitu selaput tipis yg terdpt di muka liang vagina. Selaput dara tdk mengandung pembuluh darah. Robeknya selaput dara ini biasanya terjadi karena hubungan seks (masuknya alat kelamin laki* ke dalam vagina). Selaput dara juga dpt robek karena kecelakaan atau kegiatan olah raga yg berat (berkuda atau jatuh dari sepeda), tetapi hal ini jarang terjadi. Kegiatan olah raga berat tersebut dpt menyebabkan robeknya selaput dara jika kecelakaan yg menimbulkan luka penetrasi pd mulut vagina.
    Pada saat hubungan seks yg pertama dapat disertai sedikit perdarahan tetapi bisa juga tidak, hal ini tergantung pd kekenyalan selaput dara. Perdarahan terjadi karena ada luka pd pembuluh darah yg ada disekitar dinding vagina, bukan berasal dari selaput dara.

    Selaput dara dari "Lyllia" mempunyai lubang, krn melalui lubang tsb keluar darah sewaktu kita menstruasi, kalau tidak ada lubangnya malah akan menimbulkan penyakit karena darah menstruasi menumpuk tidak bisa keluar yg akhirnya bisa menyebabkan kematian karena infeksi.

    Lubang pd selaput dara bervariasi dari satu individu ke individu lainnya.


     

    ~~> Bentuknya ada yg bulat, lonjong maupun bergerigi dan letaknya bisa ditengah, dipinggir atau seperti saringan. Bentuk* selaput dara ini akan mempengaruhi kelancaran pengeluaran darah menstruasi. Selain itu jg selaput dara mempunyai elatisitasnya yg berbeda – beda, ada yg kaku dan ada yg elastis/kenyal. Elastisitasnya inilah yg antara lain mempengaruhi apakah perdarahan pd saat bersenggama pertama terjadi atau tidak.


     
  2. Perineum, terletak diantara vulva dan anus, panjang lebih
    kurang 4 cm.

 

  1. Meatus Uretha eksternal, akhir dari saluran kencing / uretra.

 

  1. Anus, tempat pengeluaran kotoran.

 

  1. Rectum, bagian akhir dari usus besar terletak di atas anus. Rectum adalah tempat yg dilalui oleh kotoran.

 


 


 

Organ* Genital (wanita) dalam :

  1. Vagina (lubang senggama) yaitu sebuah saluran berbentuk silinder dgn diameter dinding depan ± 6,5 cm dan dinding belakang ± 9 cm yg bersifat elastis dgn berlipat-lipat. Bentuk vagina sebelah dalam berlipat-lipat disebut Rugae. Fungsinya sebagai tempat penis berada waktu bersenggama, tempat keluarnya mentruasi dan bayi.

 

  1. Uretra (internal), saluran utk mengeluarkan air seni, panjangnya kurang lebih 3,8 cm.

 


 
  1. Uterus (rahim),
    ~~> Panjang 7 ½ cm, lebar 5 cm, tebal 2 ½ cm, berat 50 grm, Pada rahim orang dewasa yg perah menikah panjang uterus 5 – 8 cm dan berat 30 – 60 gr.
~~> Uterus terdiri dari :

  1. Fundus uteri
  2. Korpus uteri
  3. Serviks uteri
~~> Cerviks (leher rahim) yaitu bagian bawah rahim yg bagian luarnya

ditetapkan sbg batas penis waktu masuk ke dlm vagina. Pada saat
persalinan tiba, leher rahim membuka shg bayi dapat keluar.

 

 

 

 
~~> Dinding uterus terdiri dari :
a.Endometrium
b.Miometrium
c.Lapisan Serosa (Peritonium viseral), terdiri atas ligamentum yg
menguatkan uterus :
    a.Ligamentum kardinale sinistra dan dexstra, mencegah supaya
uterus tdk turun.
    b.Ligamentum sakro uterinum sinistra dan dexstra, menahan uterus
supaya tdk banyak bergerak
    c.Ligamentum rotundum sinistra dan dexstra, menahan uterus agar
tetap dlm keadaan antofleksi.
    d.Ligamentum latum sinistra dan dexstra, yg meliputi tuba
    e.Ligamentum infundibulo pelvikum, menahan tuba fallopi.

 
  1. Ovarium, berbentuk buah kenari terletak sinistra dan dexstra – uterus di bawah uterus dan terikat disebelah belakang oleh Ligamentum latum uterus, berfungsi mengeluarkan sel telur (ovum), sebulan sekali indung telur kiri dan kanan secara bergiliran mengeluarkan sel telur. Sel telur adalah sel yg dihasilkan oleh indung telur yg dpt dibuahi oleh sperma. Bila tdk dibuahi maka akan ikut keluar pd saat menstruasi. Ovarium ini mengandung 400.000 sel telur namun hanya akan mengeluarkan 400 sel telur sepanjang kehidupannya.

 

~~> Fungsi ovarium:
  1. memproduksi sel ovum
  2. memproduksi hormon estrogen
  3. memproduksi hormon progesteron

 

  1. Tuba fallopi (salfinx), ada 2 saluran telur sinistra dan dexstra, panjang kira* 12 cm, diameter 3 – 8 mm, Umbai* dari fimbria ini berfungsi utk menangkap sel ovum yg dikeluarkan indung telur.

     

    ~~> Tuba fallopi terdiri dari :

    1. Parst. Interstitial, bagian yg terdapat di dinding uterus.
    2. Parst. Ismika/ ismus, merupakan bagian medial tuba yg sempit seluruhnya.
    3. Parst. Ampularis, bagian yg berbentuk saluran leher tempat konsepsi agak lebar.
    4. Infundibulum, bagian ujung tuba yg terbuka ke arah abdomen dan mempunyai umbai yg disebut Fimbria (utk menangkap telur kemudian menyalurkan telur ke dalam tuba.Fallopi).

 

Organ Reproduksi Pria

 
Organ genetalia pria terbagi 3 bagian :

  1. Kelenjar, yaitu :
    1. Testis, tempat dibentuknya spermatozoa dan hormon laki*(testoteron), beredar dalam darah 15 – 30 menit, kemudian disekresi. Testoteron dihasilkan pd anak usia 11 – 14 tahun. Berkurang kecepatan produksinya setelah berumur 40 thn. Testis berjumlah 2 buah.Testis berada diluar tubuh krn pertumbuhan sperma membutuhkan suhu yg lebih rendah daripada suhu tubuh. Sperma yaitu sel yg bentuknya seperti berudu berekor hasil dari testis yg dpt keluar saat mimpi basah bersama cairan mani dan bila bertemu dgn sel telur yg matang akan terjadi pembuahan.

       

      ~~> Fungsi testis terdiri dari :

          a. membentuk gamet* baru yaitu spermatozoa, dilakukan di

      seminiferus

          b. menghasilkan hormon testoteron, dilakukan oleh sel

      interstitial (sel lydig)


       
    2. Vesika seminalis, panjang 5 – 10 cm berupa kantong seperti huruf S berbelok – belok, fungsi vesika seminalis yaitu menghasilkan sekret yg ditambahkan pd cairan semen. Sekretnya mengandung zat penting sbg makanan spermatozoa.

     
    1. Kelenjar Bulbouretralis, terletak di sebelah bawah dari kelenjar prostat panjangnya 2 – 5 cm, fungsinya : hampir sama dgn kelenjar prostat.

 

  1. Prostat, panjang kurang lebih 3 cm dan terletak di antara collum vesicae diatas dan diaphragma urogenitale dibawah.Prostat dikelilingi oleh capsula fibrosa.

 

~~> Kelenjar prostat terdiri dari 30 – 50 kelenjar yg terbagi atas 4 lobus :
  1. Lobus Posterior
  2. Lobus Lateral
  3. Lobus Anterior
  4. Lobus Medial

 

~~>Fungsi prostat adalah menghasilkan cairan tipis seperti susu yg mengandung asam sitrat dan fosfatase asam. Cairan ini ditambahkan ke semen pd waktu ejakulasi. Sekret prostata bersifat alkalis dan membantu menetralkan suasana asam di dalam vagina.

 
  1. Kelenjar duktuli, yaitu :
    1. Epididimis, panjangnya ± 6 cm.Duktus efferen panjangnya ± 20 cm, berbelok – belok dan membentuk kerucut kecil dan bermuara di epididimis tempat spermatozoa disimpan, masuk ke dalam vas deferens (fungsinya: sebagai saluran penghantar testis, mengatur sperma sebelum ejakulasi dan memproduksi semen), panjang vas deferens 45 cm.

       

      ~~> Semen. Terdiri dari sekret epididimis vesika seminalis dan prostat serta mengandung spermatozoa yg dikeluarkan setiap ejakulasi, spermatozoa bergerak dlm semen dgn lingkungan cairan alkalis melindungi dari keasaman.

     
    1. Duktus seminalis, vesika seminalis mempunyai saluran yg dinamai duktus vesikula seminalis. Duktus vesikula seminalis ini akan bergabung dgn duktus deferens (merupakan kelanjutan dari epididimis ke kanalis inguinalis, kemudian duktus ini berjalan masuk ke dlm rongga perut terus ke kandung kemih akhirnya bergabung dgn saluran vesika seminalis dan selanjutnya membentuk ejakulatorius dan bermuara di prostat).

 

  1. Uretra, uretha pars prostatica mempunyai panjang kurang lebih 3 cm dan berasal dari collum vesicae urinary.

 

  1. Bangun penyambung, yaitu :
    1. Skrotum (Buah pelir), berupa kantong yg terdiri atas kulit tanpa lemak yg menggantung di dasar pelvis, dimana sepasang testis tersimpan, dan berwarna gelap. Skrotum mengandung otot* polos yg mengatur jarak jauh testis ke dinding perut dgn maksud mengatur suhu testis agar tetap.

     
    1. Funikulus spermatikus, merupakan bangun penyambung yg berisi duktus seminalis, pembuluh limfe dan serabut* syaraf.

 

  1. Penis, berfungsi sbg alat senggama dan sebagai saluran utk menyalurkan sperma/mani dan air seni. Pd keadaan biasa, penis tergantung dimuka skrotum, sedangkan pd waktu terangsang seksual banyak darah yg dipompakan ke dalam jari erektil tsb sedangkan pengeluaran darahnya tertahan. Dgn demikian penis terpompa penuh dgn darah dan berubah menjadi tegang dan kasar. Keadaan seperti ini disebut ereksi.
    Glans penis adalah bagian depan atau kepala penis. Glans banyak mengandung pembuluh darah dan syaraf. Glans hrs dijaga kebersihannya.


     

    Preputium (foreskin) adalah kulit yg menutupi bagian glans. Sunat adalah suatu kebiasaan di bbrp negara. Sunat dianjurkan krn memudahkan pembersihan penis shg mengurangi kemungkinan terkena infeksi, radang dan bbrp macam kanker. Sunat yaitu memotong kulit preputium.

 


 
Organ reproduksi ini juga adakalanya mengalami gangguan biologi-anatomis. Kelainan ini harusnya diketahui sedini mungkin agar memungkinkan tindakan operasi atau kolektif utk minimalisasi efek negatifnya. Berikut bbrp jenis gangguan biologis-anatomis yg sering dijumpai antara lain :
  1. Crytorchidism : buah pelir hanya satu atau tdk ada di dlm kantung pelirnya
  2. Hyspadia : lubang keluar sperma/kencing pd laki* disebelah bawah biasanya ketika buang air kecil, alirannya 'tidak deras'
  3. Pseudohermaphrodite : bentuk alat kelamin ganda laki* dan perempuan tetapi tdk sempurna
  4. Vagina tdk sempurna (tdk memiliki lubang vagina misalnya) atau tdk memiliki vagina.
  5. Micro penis : penis kecil/tdk berkembang.

 


 

Oliguria < 500 cc dan poliuria < 100 cc .




 

Senin, 22 November 2010

PEMBERIAN OBAT VI.





PEMBERIAN OBAT VI.


A. PEMBERIAN OBAT ORAL
Cara obat yang diinginkan adalah peroral, karena paling aman dan mudah diberikan, kecuali pada klien yang menderita gangguan fungsi saluran cerna dan fungsi menelan.
Kebanyakan tablet dan kapsul harus diberikan bersama cairan dalam jumlah yang adekuat, hal ini memberikkan kesempatan kepada perawat untuk meningkatkan asupan cairan klien.
Saat memberikan obat per oral, perawat harus melindungi klien dari kemungkinan aspirasi.
Memberi posisi duduk pada klien atau berbaring miring akan mencegah akumulasi obat cair atau padat dibelakang tenggorokan. Klien yang menelan dengan lambat sebaiknya tidak dipaksakan untuk banyak minum cairan setiap kali menelan, klien sebaiknya hanya menelan satu pil atau kapsul pada suatu waktu. Jika klien batuk ketika minum obat, sebaiknya tunda pemberian obat berikutnya. Sampai klien dapat bernafas dengan mudah
Pedoman pemberian obat melalui selang nasogastrik tube ( NGT )

1. Berikan obat dalam bentuk cair ( suspensi, eliksir atau larutan ), bila memungkinkan,untuk mencegah obstruksi selang
2. Baca label obat dengan teliti sebelum menghancurkan sebuah tablet atau membuka sebuah kapsul.
3. Jangan menghancurkan tablet bukal atau sub lingual.
4. Jangan menghancurkan obat bersalut enteric atau obat yang reaksinya terus menerus.
5. Larutkan tablet yang dihancurkan dan obat-obatan dalam air hangat.
6. Larutkan kapsul gelatin dan kapsul yang lunak dalam air hangat.
7. Aliri selang dengan 50- 150 ml air sebelum dan sesudah semua obat diberikan.
8. Hindari memberikan sirup atau obat yang ph nya kurang dari 4.,
9. Jangan berusaha memberikan semua obat atau obat yang tidak dapat larut.

Langkah-langkah dalam pemberian obat peroral :

1. Kaji adanya kontraindikasi pada klien yang menerima obat peroral.
2. Tetapkan pilihan klien dalam toleransinya terhadap cairan.
3. Siapkan suplai dan peralatan yang dibutuhkan.
a. Kartu, format catatan .
b Kereta obat atau nampan
c. Mangkuk obat.
d. Segelas air, jus atau cairan yang dipilih.
e. Sedotan
f. Alat penghancur pil
4. Periksa keakuratan dan kelengkapan setiap kartu.( 6 benar )
5. Siapkan obat
a. Cuci tangan.
b. Atur nampan dan mangkok obat didalam ruang pengobatan atau pindahkan kereta obat keluar kamar klien
c. Buka kunci laci atau kereta obat.
d. Siapkan obat – obatan untuk seorang klien
e. Pilih obat yang tepat dari persedian atau laci,unit dosis, bandingkan label obat dengan format, kartu dan huruf cetak nama bat.
f. Hitung dosis obat dengan benar.
g. Untuk menyiapkan tablet atau kapsul dari botol , tuang secukupnya kedalam tutup botol dan pindahkan kemangkok.
i. Tempatkan srmua tablet ata ka[sul yangakan diberikan dalam waktu yang sama didalam sebuah tmpat obat.
j. Tablet berbentuk biji dapat dibelah dengan tangan atau atau dipotong dengan menggunakan alat pemotong..
k. Jika klien sulit menelan., gerus obat dengan menggunakan alat penggerus obat.

B. PEMBERIAN INJEKSI.

Merupakan prosedur invasive, harus dilakukan dengan tehnik steril, kemungkinan bisa terjadi infeksi.Rute pemberian adalah IM. IV, ID dan SC, Membutuhkan keterampilan tertentu dalam rangka menjamin obat tepat pada lokasi yang tepat.

PERALATAN
1. Spuit
=Terdiri dari tabung ( barrel )
= Bentuk silinder, bagian ujung didesain tepat berpasangan dengan jarum lipodermis dan alat pengisap ( plunger ) yang menempati rongga spuit.
= Ukuran 0,5 s.d 60 ml
= klasifikasi terbagi 2 macam , berdasarkan pada desain ujung spuit
a. Luer lok
Memerlukan jarum khusus, yang melilit naik ke ujung spuit dan terkunci aman di tempat, dan dapat mencegah jarum terlepas karena kurang hati-hati.

b. Non luer lok
Memerlukan jarum yang dapat langsung terpasanag ke ujung spuit.

2. Jarum
= terbuat dari stainless stell
= hanya digunakan satu kali pemberian.
= Memiliki tiga bagian
1. hub : yang tepat terpasang pada ujung sebuah spuit
2. Shaft : batang jarum
3. Bevel yakni bagian ujung yang miring
= Setiap jarum memiliki tiga karakteristik utama yaitu kemiringan bevel, panjang batang jarum dan ukuran atau diameter jarum
= Panjang jarum bervariasi dari ukuran ¼ sampai 5 inci
= untuk IM ukuran 19 sampai 23, SC ukuran no 25 dan ID ukuran no 26

MENYIAPKAN INJEKSI
AMPUL
=Ampul berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cairan dan tersedia dalam beberapa ukuran dari 1 ml s.d 10 ml.
= Terbuat dari bahan gelas dengan bagian leher mengecil, yang harus dipatahkan.
= Terdapat lingkaran berwarna pada sekeliling leher.

VIAL
= Merupakan wadah gelas berisi obat dosis tunggal atau multidosis yang memeiliki penyekat karet dibagian atasnya.
= Tutup logam atau plastic melindungi penyekat sampai vial siap digunakan
= Berisi larutan atau bubuk kering, obat yang tidak stabil dalam larutan dikemas dalam bentuk kering.
= Biasanya disertai pelarut yang sudah disiapkan.
= Salin normal dan aquades steril adalah larutan yang biasanya digunakan untuk melarutkan obat.
= Merupaka sebuah sistem tertutup, dan udara harus di injeksikan ke dalam vial supaya larutan mudah diisap.
= Jika udara gagal dimasukan sebelum larutan diisap, maka akan terdapat ruang hampa didalam vial dan akan mempersulit pengisapan larutan.
= Setelah sudah tercampur dengan pelarut, maka sebaiknya dikocok atau digulir perlahan diantara tangan sehingga obat dapat terlarut dengan baik.
= Buat tanggal dicampur dan letakan dalam pendingin jika obat tersisa.

MENCAMPUR OBAT
Jika dua obat kompatibel, maka keduanya dapat dicampur dalam satu injeksi, namun jika ditemukan tidak kompatibel, sebaiknya ditanyakan/ konsultasikan ke farmasi.

MENCAMPUR OBAT DARI DUA VIAL
Prinsip ketika mencampur obat dari dua vial adalah :
a. Jangan mengontaminasi satu obat dengan obat lain.
b. Pastikan dosis yang terakhir akurat.
c. Pertahankan tehnik aseptic

= Hanya dibutuhkan satu spuit untuk mencampur obat dai dua vial.
= Ambil sebuah spuit, dan aspirasi udara yang equivalent dengan dosis obat pertama ( vial A )
= Injeksikan udara ke dalam vial A sambil memastikan jarum tidak menyentuh larutan
= Tarik jarum, kemudian mengisap udara yang equivalent dengan dosis obat kedua (vial B )
= Injeksikan volume udara kedalam vial B
= Segera mengisap obat yang dibutuhkan dari vial B kedalam spuit.
= Pasang jarum baru yang steril pada spuit dan menginsersinya kedalam vial A
= Mengisap obat yang diinginkan dari vial A kedalam spuit.
= Setelah mengisap jumlah larutan yang dinginkan, ganti dengan jarum baru yang steril.

MENCAMPUR OBAT DARI SATU VIAL DAN SATU AMPUL
= Hal yang sederhana, karena tidak perlu menambahkan udara untuk mengisap obat dari sebuah ampul.
= Masukan obat dari vial kedalam spuit dengan cara mengisap, kemudian dengan spuit yang sama isap obat yang ada pada ampul .
Ganti dengan jarum yang baru dan steril .

MENYIAPKAN INJEKSI DARI AMPUL
1. Cuci tangan
2. Siapkan peralatan yang diperlukan :
a. Ampul
1) Ampul berisi obat
2). Spuit dan jarum.
3). Nirbeken

b. Vial
1). Vial berisi obat
2). Spuit dan jarum
3). Swab alcohol
4). Pelarut ( normal saline atau aquades steril )

c. Kartu, format.

3. Kumpulkan alat-alat di meja obat
4. Periksa setiap kartu , format, atau huruf cetak nama obat.atau label di setiap ampul dan vial
5. Siapkan in jeksi dari ampul
a. Ketuk bagian atas ampul dengan perlahan dan cepat sampai cairan meninggalkan leher ampul.
b. Tempatkan bantalan kasa kecil atau swab alcohol kering disekeliling leher ampul
c. Patahkan leher ampul dengan cepat dan mantap jauhkan dari tangan.
d. Isap obat dengan cepat, pegang ampul terbalik atau letakan pada permukaan datar, masukan jarum spuit kedalam bagian tengah pembukaan ampul.Jangan biarkan ujung atau batang jarum menyentuh tepi ampul.
e. Aspirasi obat kedalam spuit
f. Pertahankan ujung jarum dibawah permukaan larutan, miringkan ampul supaya semua cairan didalam ampul terjangkau.
g. Apabila gelembung udara teraspirasi, jangan keluarkan didalam ampul.
h. Untuk mengeluarkan gelembung udara teraspirasi, pindahkan jarum, pegang spuit dengan jarum mengarah keatas, ketuk sisi spuit untuk membuat gelembung udara naik menuju jarum.
Tarik kembali pengisap sedikit, dan dorong pengisap kearah atas untuk mengeluarkan udara.
Jangan mengeluarkan cairan

i. Apabila cairan berlebih, buang ke bak cuci atau nirbeken.
j. Pasang tutup jarum, ganti jarum pada spuit
k. Buang bahan yang kotor pada tempatnya.

MENYIAPKAN INJEKSI DARI VIAL
6. Siapkan injeksi vial.
a. Lepas penutup logam yang menutup bagian atas vial.
b. Usapkan permukkaan penyekat karet dengan swab alkohol
c. Ambil spuit, Pastikan jarum terpasang kuat pada spuit, lepaskan tutup jarum, Tarik pengisap untuk mengalirkan sejumlah udara kedalam spuit untuk dimasukan kedalam vial obat yang sama dengan juimlah obat yang diaspirasi kedalam spuit.
d. Masukan ujung jarum dengan bevel mengarah keatas melalui bagian tengah penyekat karet. Beri tekana pada ujung jarum selama insersi
e. Masukan udara kedalam vial dengan memegang pengisap.
f. Balik vial , sementara spuit dan pengisap dipegang kuat, pegang vial dengan jari tengah.yang tidak dominan diantara ibu jari dan jari tengah. Pegang bagian ujung spuit dan pengisap dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan ya ng dominant.
g. Pertahankan ujung jarum tetap dibawah ppermukaan cairan .
h. Biarkan tekanan udara membuat spuit terisi obat secara bertahap.Tarik pengisap sedikit jika diperlukan.
i. Ketuk sisi badan spuit untuk mengeluarkan udara.
j. Setelah volume obat yang benar diperoleh, pindahkan jarum dari vial dengan menarik badan spuit
k. Buang udara sisa dari spuit dengan memegang spuit dan jarum tetap tegak.
l. ganti jarum dan tutup.
m. Untuk vial multi doses, buat label yang memuat tanggal pencampuran, konsentrasi obat dan inisial anda.
n. Buang bahan yang kotor ditempat yang.benar

7. Bersihkan area kerja dan cuci tangan.
8. Periksa jumlah cairan dalam spuit dan bandingkan dengan dosis yang diinginkan

MELAKUKAN INJEKSI.

1. INTRA DERMAL
KERJA
a. Efek local
b. Jumlah kecil diinjeksiksn sehingga volume tidak terganggu dengan pembengkakan atau meyebabkan raksi sisatemik
c. Dipakai untuk pengamatan reaksi peradangan ( allergi ) terhadap protein asing, contohnya tes tuberculin, tes terhadap obat dan kepekaan allergi lainnya, dan beberapa macam imunoterapi untuk kanker.

TEMPAT
Lokasi dipilih sehingga reaksi inflamasi dapat di amati., Daerah yang disukai adalah yang tidak banyak mengandung pigmen, berkeratin tipis dan tidak berambut seperti permukan ventral dari lengan bawah, daerah klavikula pada dada, daerah scapula pada punggung dan permukaan medial paha

PERLENGKAPAN
a. Jarum : No. 26 dan 27
b. Tabung suntik : Kalibrasi 1 ml dalam inkremen 0.01 ml
Biasanya disuntikan 0.01 – 0.1 ml

TEKNIK
a. Bersihkan daerah suntikan dengan gerakan melingkar, gunakan tehnik steril.
b. Regang kulit dengan kencang.
c. Masukan jarum, tunggingkan pada sudut 15 derajat, baying-bayang dibawah kulit harus terlihat.
d. Suntikan obat perlahan-lahan sampai terbentuk pembengkakan.
e. Angkat jarum dengan perlahan-lahan.
f. Jangan gosok daerah suntikan, demikian juga dengan pasien agar tidak menggosok bekas suntikan.,
g. Periksa reaksi allergi dalam 24 s.d 72 jam , ukur diameter untuk reaksi lokal.

SUB KUTAN
KERJA
a. Efek sistemik
b. Efek bertahan : terutama diserap melalui kapiler. Biasanya lebih lambat mula kerjanya dari pada rute im
c. Dipakai untuk dosis kecil, untuk obat-obat yang tidak mengiritasi , larut dala air.

TEMPAT
Lokasi untuk suntikan subkutan dipilih dimana terdapat bantalan lemak dengan ukuran yang memadai, yaitu pada abdomen, paha atas, punggung bagian atas , lengan atas sisi lateral dan paha sisi lateral.

PERLENGKAPAN.
a. Jarum : No. 25 -27
b. Tabung suntik : 1 -3 ml, biasanya disuntikan 0,5 -1,5 ml.
Tabung suntik insulin yang memakai ukuran dalam unit hanya dipakai untuk insulin.

TEKNIK.
a. Bersihkan daerah suntikan dengan gerakan melingkar dengan menggunakan teknik steril.
b. Cubitlah kulit.
c. Masukan jarum dengan sudut yang sesuai dengan ukuran tubuh 45 s.d 90 derajat.
d. Lepaskan kulit
e. Aspirasi, kecuali dengan heparin.
f. Suntikan obat dengan perlahan-lahan.
g. Angkat jarum dengan cepat, jangan tutup kembali.
h. Berikan gosokan jika perlu.

INTRAMUSKULAR ( IM )
KERJA.
a. Efek sistemik
b. Biasanya efek obat lebih cepat terjadi daripada sc.
c. Dipakai untuk obat yang mengiritasi, suspensi dalam air dan larut dalam minyak.

TEMPAT
Lokasi dipilih pada daerah dengan ukuran otot yang memadai dan terdapat sedikit saraf dan pembuluh darah yang besar.
Lokasi yang lebih disukai adalah ventrogluteal, dorsogluteal, deltoid dan vastus lateralis ( pada anak )

PERLENGKAPAN.
a. Jarum : No. 18 -21, Panjang 1 -1,5 inci

TEKNIK
Sama dengan pemberian SC, Kecuali jarum dimasukan dengan sudut 90 derajat kedalam otot.,

INTRA VENA ( IV )
KERJA
a. Efek sistemik
b. Lebih cepat daripada IM dan SC

TEMPAT
Vena perifer yang mudah dicapai ( contoh vena sefalika, kubiti dari lengan, vena dorsalis dari tangan. ). Pada bayi baru lahir, vena-vena pada kaki, tungkai bawah, dan kepala mungkin dapat dipakai setelah tempat-tempat terebuit diatas terpakai.

PERLENGKAPAN.
a. Jarum No. 20 -21; 1 inci
No. 24 ; 1 Inci untuk bayi
No. 22 ; 1 inci untuk anak

TEKNIK
a. Pasang torniket
b. Bersihkan daerah suntikan dengan teknik aseptic
c. Masukan butterfly atau kateter, tekuk kedalan vena sampai darah masuk, lepaskan torniket
d. Stabilkan jarum dan beri kasa pada tempat tersebut.
e. Pantau kecepatan aliran, denyut nadi dibagian distal, warna dan suhu kulit dan tempat insersi.

TEMPAT INJEKSI IM
1. OTOT VASTUS LATERALIS
@ Terletak di bagian lateral anterior paha.
@ Pada orang dewasa membentang sepanjang satu tangan diatas lutut sampai sepanjang satu tangan dibawah trokanter femur.
@ Sepertiga tengah otot merupakan tempat terbaik injeksi.

2. OTOT VENTROGIUTEAL.
@ Meliputi gluteus medius dan minimus
@Klien disuruh berbaring diatas salah satu sisi tubuh dengan menekuk lutut, kemudian cari otot dengan menempatkan telapak tangan diatas trokanter mayor dan jari telunjuk pada spina iliaka superior anterior panggul. Tangan kanan digunakan untuk panggul kiri dan tangan kiri digunakan untuk panggul kanan . Perawat menunjukan ibu jarinya kea rah lipat paha klien dan jari lain kearah kepala. Tempat injeksi terpajan ketika perawat melebarkan jari tengah kebelakang sepanjang Krista iliaka kearah bokong.
Jari telunjuk, jari tengah, dan Krista iliaka membentuk sebuah segitiga dan tempat injeksi berada ditengah segitiga tersebut.

3. OTOT DORSOGLUTEUS
@ Merupakan tempat biasa digunakan injeksi IM
@ Daerah dorsogluteus berada dibagian atas luar kuadran atas luar bokong, kira-kira 5 sampai 8 cm dibawah Krista iliaka
@ untuk menemukan lokasinya, palpasi spina iliaka posterior dan superior dantrokhantor mayor femur. Sebuah garis khayal ditarik diantara dua penanda anatomi. Tempat injeksi terletak diatas dan lateral terhadap garis
@. Pada anak-anak hanya boleh digunakan jika usia lebih dari 3 tahun.

4. OTOT DELTOID
@. Pada beberapa orang dewasa, bayi dan anak, otot deltoid belum berkembang baik.
@ Terdapat saraf radialis, ulnaris dan artteri brakhialis.terdapat didalam lengan atas dsepanjang humerus.
@ Jarang digunakan , kecuali tidak ada akses lagi
@ Menentukan lokasi adalah Palpasi batas bawah prosesus akromium, yang membentuk basis sebuah segitiga yang sejajar dengan titik tengah bagian lateral lengan atas. Tempat injeksi terletak dibagian tengah segitiga sekitar 2.5 sampai 5 cm dibawah prosesus akromium atau dengan cara menempatkan empat jari diatas otot deltoid, dengan jarim teratas berada disepanjang prosesus akromium. Tempat injeksi terletak tiga jari dibawah prosesus akrumium.