Jumat, 06 April 2012

TAHAP PERKEMBANGAN (DUVAL)

TAHAP PERKEMBANGAN  (DUVAL)
1.            Tahapan pembentukan keluarga
         Masalah yang mungkin terjadi :
Pasangan suami istri yang tinggal dalam suatu kompleks yang menganut sifat individualisme, seperti di jakarta. Sehingga sulit menjalin hubungan yang bagus dengan masyarakat sekitar tau juga karena kesibukkan mereka sehingga tidak ada waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga disekitarnya. Hal ini bisa berakibat ketika mereka menginginkan pertolongan tetapi di saat itu mereka tidak terlalu erat hubungan dengan warga dan menutup diri dengan mereka, maka warga enggan memberikan bantuaanya kepada pasangan suami – istri tersebut.  

Teori :
Keluarga dipandang sebagai sistem yang berinteraksi.Fokusnya padad dinamika dan hubungan internal keluarga,struktur dan fungsi keluarga, sertake saling tergantungan subsistem keluarga dgn keseluruhan dan keluarga dgn lingkungan luarnya.(Friedman) Unit terkecil dari masyarakat yang tdd kepala keluarga dan bbrp org yang  berkumpul & tinggal disuatu tempat di bawah suatu atap dlm keadaan saling ketergantungan (Depkes, 1988).menurut depskes ciri – ciri keluarga Indonesia adalah :
a.       Suami sebagai pengambil keputusan
b.      Merupakan suatu kesatuan yang utuh
c.       Berbentuk monogram
d.      Bertanggung jawab
e.       Pengambil keputusan
f.       Meneruskan nilai-nilai budaya bangsa
g.      Ikatan kekeluargaan sangat erat
h.      Mempunyai semangat gotong-royong
Nilai sosial adalah nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat. Sebagai contoh, orang menanggap menolong memiliki nilai baik, sedangkan mencuri bernilai buruk. Woods mendefinisikan nilai sosial sebagai petunjuk umum yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari-hari. Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Masyarakat sering diorganisasikan berdasarkan cara utamanya dalam bermata pencaharian. Pakar ilmu sosial mengidentifikasikan ada: masyarakat pemburu, masyarakat pastoral nomadis, masyarakat bercocoktanam, dan masyarakat agrikultural intensif, yang juga disebut masyarakat peradaban. Sebagian pakar menganggap masyarakat industri dan pasca-industri sebagai kelompok masyarakat yang terpisah dari masyarakat agrikultural tradisional.
Solusi :
Hubungan yang baik akan mendatangkan hal yang baik. Ingatlah bahwa manusia itu adalah makhluk sosial pasti memerlukan bantuan orang lain. Apabila kita membantu orang lin maka suatu saat kebaikan kita tersebut akan di balas oaleh orang lain.
2.            Tahapan menjelang kelahiran anak;
         Masalah yang mungkin terjadi   :
·      Pasangan suami istri memiliki ekonomi rendah sehingga kedua pasangan tersebut tidak mempunyai uang yang cukup untuk melahirkan bayinya dirumah sakit dan mencukupi kebutuhan bayi yang ingin di lahirkan. Seperti, pakaian bayi, kebutuhan nutrisi bayi dan lain – lainnya.
Teori :
Keluarga sehat adalah suatu keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan keluarga yang terdiri dari individu-individu yang dikepalai oleh seorang kepala keluarga yang tinggal dalam satu lingkungan/satu rumah dapat hidup secara sosial dan ekonomis.
Dengan demikian, pendekatan kepada keluarga akan sekaligus menjangkau pula setiap individu yang membentuk kleuarga tersebut, dan dapat mengimbas ke masyarakat yang terbentuk dari kumpulan banyak keluarga.
Upaya kesehatan ditingkat keluarga karenanya berperan amat penting guna meningkatkan hidup sehat keluarga itu sendiri, individu maupun masyarakat. Peranan keluarga ini semakin penting, dengan meningkatnya masalah kesehatan akibat pengaruh lingkungan dan perilaku dalam kehidupan modern dewasa ini. (Depkes RI, 1985, Jakarta, Tata Laksana Perawatan Kesehatan Masyarakat) Keluarga “PRASEJATERA”, belum dapat memenuhi kebutuhan dasar minimal, pengajaran agama,  sandang, papan, pangan, kesehatan.
3.            Tahapan menghadapi bayi;
·      Anak yang tidak dikehendaki kelahirannya dan pernah mencoba untuk menggugurkannya. Ketika pasangan tersebut tidak menghendaki anak laki-laki  dan ternyata mereka menginkan seorang anak perempuan atau sebaliknya, ketika itu lah mereka berniat untuk membuangnya tidak bisa menerima kenyataan dan takdir mereka mandapatkan ank tersebut.
Teori :
Penolakan anak biasanya dilakukan oleh suami istri yang kurang dewasa secara psikis. Misalkan mereka mengharapkan lahirnya anak laki-laki tetapi memperoleh anak perempuan. Sering pula disebabkan oleh rasa tidak senang dengan anak pungut atau anak dari saudara yang menumpang di rumah mereka. Faktor lain karena anaknya lahir dengan keadaan cacat sehingga dihinggapi rasa malu. Anak-anak yang ditolak akan merasa diabaikan, terhina dan malu sehingga mereka mudah sekali mengembangkan pola penyesalan, kebencian, dan agresif.
 Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera. Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral. Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah. Ego selalu menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego. Apabila tuntutan ini tidak berhasil diatasi dengan baik, maka ego terancam dan muncullah kecemasan (anxiety). Dalam rangka menyelamatkan diri dari ancaman, ego melakukan reaksi defensif /pertahanan diri. Hal ini dikenal sebagai defense mecahnism yang jenisnya bisa bermacam-macam, a.l. repression.
Teori Struktural – Fungsional berpandangan dimana secara struktural beranggapan bahwa ketertiban sosial akan dapat tercipta apabila ada struktur atau strata dalam keluarga, dimana masing-masing individu akan mengetahui dimana posisinya, patuh pada sistem nilai yang melandasi struktur tersebut. Sementara aspek fungsional dari teori ini beranggapan bahwa fungsi sebuah sistem adalah mengacu pada kegunaan sebuah sistem untuk memelihara dirinya dan memberikan kontribusi pada berfungsinya sub sistem – sub sistem lain dari sistem tersebut. Sebuah keluarga yang strukturnya berubah, misalnya terjadi perceraian, individu-individu lain (anak-anak) akan terpengaruh, bahkan dapat membuat sistem keseluruhan tidak dapat berfungsi secara normal. Oleh karena itu, sangat tepat apabila solusi terhadap penanganan masalah kenakalan anak dan remaja dilakukan oleh keluarga.(http://rudyct.com/PPS702-ipb/08234/uke_h_rasalwati.html).
Solusi :
Bersyukurlah atas pa yang diberikan Allah kepada kita, terimalah pa yang kita dapatkan, berdoalah agar kita bisa menjalankan amanat dari Allah tersebut dengan baik dan ambillah hikmah dari semuanya itu. Ingtlah bahwa anak adalah seorang yang membutuhkan kasih sayang yang iklas dari orang tuanya serta merupakan amanat dan titipan dari Allah kepada orang tuanya.
4.            Tahapan menghadapi anak prasekolah;
Masalah yang mungkin terjadi :
·      Orang tua yang tidak bisa membagi waktunya untuk anak bisa mengakibatkan orangtua tersebut tidak bisa mempertahankan kesehatan anaknya. Kesibukkan tersebut membuat anak merasa tidak di perhatikan, agar merasa perhatikan orangtua mangasuhkannya dengan baby sitter atau pembantu. Mengakibatkan anak tersebut tidak patuh lagi dengan orang tuanya.  
Teori :
Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja. Penelitian yang dilakukan oleh Gerald Patterson dan rekan-rekannya (dalam Santrock, 1996) menunjukkan bahwa pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesua i merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. Faktor genetik juga termasuk pemicu timbulnya kenakalan remaja, meskipun persentasenya tidak begitu besar.
Kenakalan remaja biasa disebut dengan istilah Juvenile berasal dari bahasa Latin juvenilis, yang artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja, sedangkan delinquent berasal dari bahasa latin “delinquere” yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau peneror, durjana dan lain sebagainya. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anakanak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal.(Kartono, 2003).
Mussen dkk (1994), mendefinisikan kenakalan remaja sebagai perilaku yang melanggar hukum atau kejahatan yang biasanya dilakukan oleh anak remaja yang berusia 16-18 tahun, jika perbuatan ini dilakukan oleh orang dewasa maka akan mendapat sangsi hukum. Hurlock (1973) juga menyatakan kenakalan remaja adalah tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh remaja, dimana tindakan
tersebut dapat membuat seseorang individu yang melakukannya masuk penjara. Sama halnya dengan Conger (1976) & Dusek (1977) mendefinisikan kenakalan remaja sebagai suatu kenakalan yang dilakukan oleh seseorang individu yang berumur di bawah 16 dan 18 tahun yang melakukan perilaku yang dapat dikenai sangsi atau hukuman.
Sarwono (2002) mengungkapkan kenakalan remaja sebagai tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana, sedangkan Fuhrmann (1990) menyebutkan bahwa kenakalan remaja suatu tindakan anak muda yang dapat merusak dan menggangu, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Santrock (1999) juga menambahkan kenakalan remaja sebagai kumpulan dari berbagai perilaku, dari perilaku yang tidak dapat diterima secara sosial sampai tindakan kriminal.
Maraknya bunuh diri, mungkin karena buntunya jalan pikiran mereka. Mereka tidak lagi mampu berpikir wajar atau positif untuk menyelesaikan masalah. Terutama masalah keuangan, merasakan kehidupan yang berat sampai anaknya sendiri dibunuh takut nanti tidak berhasil dalam kehidupannya dan sebagainya. Kejadian pada remaja, juga akibat tidak adanya komunikasi antara anak dengan orang terdekatnya, baik ibu sebagai orangtua atau nenek dan lainnya yang ada di sekitarnya. Mereka yang adalah orang terdekat tidak pernah hirau pada kondisi si anak atau remaja. Entah wajah anak yang murung, bajunya lecek, pulang sekolah sebelum waktunya, melihat hal demikian seharusnya diadakan komunikasi. Karena tidak adanya tempat menumpahkan unek-uneknya, akhirnya mereka meniru atau mencoba-coba hal yang berakibat fatal. Menurut prosentase penelitian, ide-ide bunuh diri pada anak lebih banyak yang berakibat fatal, mati. Misalnya remaja dengan persoalan seks terselubung. Ia malu mengungkapkan keinginannya, harapannya, apalagi kondisi dan keadaannya demikian rupa.
(dr. Endah)
Budaya kekerasan ada pada sebagian masyarakat kita. Hal tersebut akan menimbulkan konflik mental pada remaja. Masalahnya sekarang bisakah budaya kekerasan ini diubah, seperti pepetah taburlah gagasan tuailah perbuatan, taburlah perbuatan tuailah kebiasaan, taburlah kebiasaan tuailah karakter, taburlah karakter tuailah nasib. Barangkali hal ini sudah nasib bagi sebagian orang. Kini, apa yang harus dilakukan? Membangun komunikasi dan saling memahami serta mengeliminir budaya kekerasan.
(Suardana, Jimbaran).
Solusi :
Sadari diri sendiri dan banyak – banyak lah bersama keluarga, karena apabila orang yang kita sayang tersebut ternyata meninggal duluan dari pada kita, tikkah kita menyesal dengan perbuatan kita. Kita adalah pilot bagi sikap kita, kaman kita melangkah melangkah lah ke arah yang lebih baik, menguntungkan dan sesuai norma.
Dalam mengatasi kenakalan remaja yang paling dominan adalah dari keluarga yang merupakan lingkungan yang paling pertama ditemui seorang anak. Di dalam menghadapi kenakalan anak pihak orang tua kehendaknya dapat mengambil dua sikap bicara yaitu:
1. Sikap atau cara yang bersifat preventif
Yaitu perbuatan/tindakan orang tua terhadap anak yang bertujuan untuk menjauhkan si anak daripada perbuatan buruk atau dari lingkungan pergaulan yang buruk. Dalam hat sikap yang bersifat preventif, pihak orang tua dapat memberikan atau mengadakan tindakan sebagai berikut :
a. Menanamkan rasa disiplin dari ayah terhadap anak.
b. Memberikan pengawasan dan perlindungan terhadap anak oleh ibu.
c. Pencurahan kasih sayang dari kedua orang tua terhadap anak.
d. Menjaga agar tetap terdapat suatu hubungan yang bersifat intim dalam satu ikatan keluarga.
Disamping keempat hal yang diatas maka hendaknya diadakan pula:
a. Pendidikan agama untuk meletakkan dasar moral yang baik dan berguna.
b. Penyaluran bakat si anak ke arab pekerjaan yang berguna dan produktif.
c. Rekreasi yang sehat sesuai dengan kebutuhan jiwa anak.
d. Pengawasan atas lingkungan pergaulan anak sebaik-baiknya.
2. Sikap atau cara yang bersifat represif
Yaitu pihak orang tua hendaknya ikut serta secara aktif dalam kegiatan sosial yang bertujuan untuk menanggulangi masalah kenakalan anak seperti menjadi anggota badan kesejahteraan keluarga dan anak, ikut serta dalam diskusi yang khusus mengenai masalah kesejahteraan anak-anak. Selain itu pihak orang tua terhadap anak yang bersangkutan dalam perkara kenakalan hendaknya mengambil sikap sebagai berikut :
a. Mengadakan introspeksi sepenuhnya akan kealpaan yang telah diperbuatnya sehingga menyebabkan anak terjerumus dalam kenakalan.
b. Memahami sepenuhnya akan latar belakang daripada masalah kenakalan yang menimpa anaknya.
c. Meminta bantuan para ahli (psikolog atau petugas sosial) di dalam mengawasi perkembangan kehidupan anak, apabila dipandang perlu.
d. Membuat catatan perkembangan pribadi anak sehari-hari.

5.            Tahapan menghadapi anak sekolah;
·      Timbulnya sifat yang tidak diketahui oleh salah satu pasangan ketika ada pasangan lain yang mempunyai sifat pendominan kekuasaan. Salah satu pasangan yaitu suami menjadi seorang yang berkuasa atau seseorang yang mempunyai kekuasaan tertinggi dan semua anggota keluarga berada di tangannya
Teori :
    Keluarga Patriark, keluarga tradisional
            - Ayah adalah kepala keluarga,
            - Dengan kekuasaan keluarga berada ditangannya
   - Istri, anak - anak laki beserta isteri dan anak - anak mereka dan putri                mereka yg tidak menikah berada di bwh kekuasaannya.
Atau keluarga tersebut menganut ”Pola Kekuasaan Otokratis” yaitu Apabila keluarga didominasi oleh satu orang anggota keluarga. Atu jg dia adalah seorang Dominator. Dominator cenderung memaksakan kekuasaan atau superioritas dgn memanipulasi anggota kelompok tertentu dan membanggakan kekuasaannya dan bertindak seakan-akan ia mengetahui segalanya dan tampil sempurna. Kekuasaan dominasi atau paksaan adalah Berdasarkan persepsi dan kepercayaan bahwa orang yg memiliki kekuasaan mungkin akan menghukum dgn ancaman,paksaan atau kekerasan dr individu* lain jika mereka tidak taat. (Cromwell dan Olson (1975))
Solusi ;
Hendaknya didalam keluarga dama mengambil sebuah keputusan dilakukan dengan Konsesus yaitu Tindakan tertentu scr bersama disetujui oleh semua yg telibat. Terdpt tanggung jwb seimbang pd keputusan serta kepuasan, oleh anggota keluarga atau rekanan. Dan jadilah keluarga yang Keluarga Egilatarian, keluarga demokratis dan keluarga modern yaitu dgn menerapkan kondensus dlm pengambilan keputusan dan meningkatkan partisipasi anak - anak ketika mereka mulai dewasa (burgess et al,       1963; Scanzoni dan Szinovacz,1980)
6.            Tahapan menghadapi anak remaja;
·      Konflik seriang terjadi diantara pasangan yaitu, pengaturan kebersamaan terhadap anak, dan berpikir anak sudah dewasa sehingga anak tidak di hiraukan dan mencari kesenangan di luar rumah. Komunikasi yang tidak jelas dan berimbang dari orangtua mengakibatkan anak berbuat semaunya. Karena pada tahap ini lah mereka mencari identitasnya.
Teori :
Kambing hitam keluarga. Adalah maslah anggota keluarga yg telah diidentifikasi dlm keluarga. Sebagai korban atau tempat pelampiasan ketegangan dan rasa bermusuhan, baik secara jelas maupun tidak. Kambing hitam berfungsi sebagai tempat penyaluran. Hartman ( Laird,1983; Kantor dan Lehr,1975; Satir,1972; Vogel dan Bell,1960 ). Dan juga dalam hubungan mereka sedang terjadi Konflik peran antar pengirim (Intersender role conflict) yaitu dua orang atau lebih memegang harpan* yg berkonflik, menyangkut pemeranan suatu peran. Misalnya anak mengharapkan ayah dan ibunya untuk bisa makan dirumah seara bersama – sama namun, ayah juga dilema dimana dia harus bekerja lembur unuk menghidupi keluarganya.
Menurutnya lagi, dalam memecahkan berbagai masalah harus berdasarkan pada pertimbangan win-win solution. Artinya orangtua di sini tidak boleh otoriter, tapi harus melihat jalan terbaik untuk kedua belah pihak. Faktor lain yang tidak kalah penting menurut psikolog lulusan Universitas Indonesia ini adalah jangan enggan untuk evaluasi diri.
"Bagaimana pun juga orangtua harus berani mengubah diri sendiri. Kalau selama ini terlalu lembek maka sudah sebaiknya harus tegas, demikian pula sebaliknya," imbuhnya.
Proses komunikasi efektif antara orangtua dengan anak, sangat membantu anak memahami dirinya sendiri, perasaannya, pikirannya, pendapatnya dan keinginan-keinginannya. Anak dapat mengidentifikasi perasaannya secara tepat sehingga membantunya untuk mengenali perasaan yang sama pada orang lain.( seto mulyadi).
Menurut Parillo, Stimpson dan Stimpson (1985), yang tergolong remaja nakal adalah mereka yang ditangkap, seperti :

a.       Anak laki-laki yang ditangkap lebih daripada anak perempuan
b.      Angka penangkapan untuk kenakalan yang paling tinggi di kota-kota paling besar , yang paling tinggi berikutnya di daerah-daerah subur, dan yang paling rendah adalah di wilayah-wilayah pedesaan. Pola ini sama dalam semua bentuk kejahatan.
c.       Angka penangkapan yang paling tinggi adalah kalangan anak-anak yang berasal dari keluarga pecah (single parent) dan keluarga yang sangat besar.
d.      Mereka yang ditangkap biasanya berakibat buruk di sekolah, menyebabkan putus sekolah atau prestasinya rendah di bawah rata-rata.
e.       Mereka yang ditangkap biasanya tinggal di wilayah-wilayah yang bercirikan adanya deprivasi sosial dan ekonomi (tempat tinggal lebih penting daripada status keluarga dilihat dari resiko ditangkap).
Keluarga sering dianggap sebagai sumber tunggal dari banyak masalah sosial. Teoritisi Fungsionalis beranggapan bahwa ketidakmampuan kelompok tertentu, terutama orang-orang miskin dan para imigran, mengakibatkan anak-anak mereka mencari hubungan-hubungan alternatif seperti gang, kelompok kriminal, dan kelompok sebaya yang menyimpang lainnya. Teoritisi Interaksionist mempelajari pola-pola interaksi  keluarga sebagai petunjuk mengapa beberapa anggota keluarga berubah menyimpang, misalnya : keluarga-keluarga yang dikepalai oleh perempuan dan keluarga yang pasangannya tidak menikah, tetapi menganut norma-norma keluarga konvensional, sering mendapat stigma dan sumber masalah sosial. Bagi Teoritisi Konflik, keluarga adalah sumber masalah sosial ketika nilai-nilai yang diajarkan bertentangan dengan masyarakat yang lebih besar. Para sosiolog mengabaikan perspektif teoritis tentang keluarga tersebut dan cenderung memfokuskan pada apa yang dapat dilakukan oleh institusi-institusi dalam masyarakat, terutama institusi-institusi kesejahteraan sosial, untuk mempertahankan dan memperkuat stabilitas keluarga.

            Keluarga sebagai ikatan sosial pertama yang dialami oleh seseorang. Di dalam keluargalah anak belajar untuk hidup sebagai mahluk sosial yang berinteraksi dengan orang lain dalam lingkungannya (learning to live as a social being) (Brill, 1978). Keluarga merupakan wadah pertama bagi seseorang untuk mempelajari bagaimana dirinya merupakan suatu pribadi yang terpisah dan harus berinteraksi dengan orang-orang lain di luar dirinya. Interaksi sosial yang terjadi dalam keluarga ini merupakan suatu komponen vital dalam sosialisasi seorang manusia. Anak akan menyerap berbagai macam pengetahuan, norma, nilai, budi pekerti, tatakrama, sopan santun, serta berbagai keterampilan sosial lainnya yang sangat berguna dalam berbagai kehidupan masyarakat. Anak akan belajar bagaimana memikul rasa bersalah, bagaimana menghadapi secara konstruktif berbagai tanggapan anggota keluarganya yang lain, anak akan mengembangkan rasa percaya diri, harga diri, kepuasan, dan cinta kasih terhadap sesama mahluk. Dengan demikian, keluargalah pelaku pendidikan utama bagi seorang anak menjadi manusia secara penuh, manusia yang mampu hidup bersama manusia lain dalam lingkungannya yang diliputi suasana harmonis, bukan manusia congkak yang memiliki dorongan agresi, merusak, dan mengganggu lingkungan sosialnya.
Solusi :
Suatu keluarga yang penuh dengan kehangatan, cinta kasih, dan dialog terbuka akan diserap oleh anak dan dijadikan sebagai nilainya sendiri. Hal inilah yang menjadi landasan kuat anak dalam berinteraksi dengan orang lain di masyarakat yang lebih luas. Pada kenyataannya, keluarga dengan kondisi seperti itu tidak selalu terbentuk. Banyak keluarga yang penuh dengan kekerasan, akibat berbagai situasinya tidak sempat mendidik anaknya menjadi manusia yang secara sosial memiliki kematangan, misalnya anak yang hanya diarahkan kepada pembantu rumah tangga dari pagi hingga malam hari, enam hari dalam seminggu, akibat kedua orang tuanya harus bekerja mencari nafkah. Banyak keluarga yang merasa lingkungan sosialnya kurang aman sehingga melarang anak-anaknya bergaul di luar rumah, sedangkan orang tuanya sendiri sibuk dengan pekerjaannya. Keluarga akan menghasilkan manusia yang “kering”, “kerdil” dan “tidak bersahabat”. Inilah yang memungkinkan menjadi pra kondisi bagi kenakalan anak dan remaja. Anak akan menyerap perilaku, kebiasaan, tatakrama, serta norma yang berasal dari televisi tanpa mendapat bimbingan yang cukup berarti dari kedua orang tuanya. Anak akan menyerap tanpa evaluasi, atas perilaku orang lain yang diamatinya.
Model Pendekatan Dalam Memahami Remaja



            Kenakalan anak dan remaja merupakan hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam upaya pemecahannya. Tidak mudah untuk mendekati mereka tanpa memahami siapa mereka dan dalam kondisi apa. Jones dan Pritchard (1985) mengemukakan lima model pendekatan untuk memahami remaja, yaitu :
1. Model Konstitusi (Constitutional Model)
            Model ini memahami remaja dari perkembangan biologis dan fisiologis. Perkembangan fisik dan biologis yang terlalu dini atau terlalu lambat dapat menimbulkan masalah bagi remaja, terutama dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan. Misalnya anak perempuan terlalu cepat mengalami menstruasi dan mengalami pembesaran buah dada, atau sebaliknya terlambat (sudah lewat masa remaja) belum mengalami masa menstruasi dan buah dadanya masih belum muncul. Hal ini dapat menimbulkan kepanikan, rendah diri, yang akhirnya sulit  berkomunikasi dan tidak dapat menyesuaikan dengan lingkungan. Demikian pula dengan perkembangan biologis dan fisiologis anak laki-laki, misalnya mimpi basah, tumbuh bulu dan lain-lain. Peran orang tua dalam hal ini sangat penting untuk membimbing mempersiapkan berbagai kemungkinan menghadapi perkembangan biologis dan fisiologis.
2. Model Krisis Identitas (Identity Crises Model)                  
            Model ini memahami remaja berdasarkan pemahaman remaja terhadap identitas dan konsep dirinya. Memandang remaja mengalami krisis identitas, belum memiliki kejelasan tentang siapa dirinya, apa potensinya dan apa kekurangannya. Berdasarkan model ini, remaja harus dibantu untuk menjawab pertanyaan siapa saya?, sehingga memperoleh kejelasan tentang konsep diri dan identitas dirinya. Bila tidak, remaja akan mengidentifikasi dan melakukan imitasi identitas orang lain, terutama tokoh idolanya sebagai dirinya. Masalah muncul bila tokoh yang menjadi idolanya adalah tokoh mafia, yang sering digambarkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Dalam hal ini peran orang tua dan para profesional yang berkepentingan mempunyai tanggung jawab untuk membantu remaja agar memiliki kejelasan terhadap identitas dan konsep dirinya.
3. Model Kebutuhan (Need Model)
            Mengacu pada teori kebutuhan untuk memahami remaja. Menurut teori kebutuhan Maslow (1970), bila kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman terpenuhi, maka pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lainnya tidak akan banyak menemukan kesulitan yang berarti. Kedua kebutuhan tersebut sangat berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan remaja yang lainnya. Remaja sering menampilkan perilaku kasar bila perutnya lapar, kurang tidur an perasaannya tidak aman. Dalam hal ini orang tua sangat berperanan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan fisiologis dan rasa aman remaja.
4. Model Belajar Sosial (Social Learning Model)
            Memandang bahwa remaja sangat sensitive atas model-model perilaku di lingkungannya. Bandura (1970) mengemukakan sebuah teori bahwa apabila seseorang terekspos pada satu model perilaku, kemudian exposure tersebut terjadi berulang-ulang (repetition), maka akan terjadi retention (penyimpanan dalam long-term memory). Bila ini terjadi, maka seseorang tersebut akan mengikuti model perilaku tersebut. Exposure ini biasanya dialami remaja dari media massa terutama televisi atau dari lingkungan sebayanya. Bila model perilaku yang menempa remaja tersebut ternyata dianggap cocok, maka remaja akan mengikuti model perilaku tersebut.  Selain itu, pada saat berkumpul dengan lingkungan kelompoknya, biasanya mereka berperilaku sama, yang sebenarnya merupakan hasil belajar sosial. Masalah muncul apabila model perilaku yang mengeksposnya adalah model perilaku negatif atau menyimpang. Orang tua dan para profesional yang berkepentingan juga mempunyai tanggung jawab dalam hal mencegah tereksposnya remaja pada model-model perilaku negatif atau menyimpang, atau mempersiapkan remaja agar memiliki ketahanan dalam menghadapi pengaruh model-model perilaku tersebut.
5. Model Stress (Stress Model)
            Memandang bahwa setiap orang pasti mengalami stress pada suatu saat. Kemampuan mengatasi stress (Coping Ability) sangat berperanan. Stress yang tidak teratasi akan mengakibatkan kecemasan, baik kecemasan ringan, seperti berkeringat, sampai kecemasan berat seperti psikosomatis. Daya untuk mengatasi atau mengelola stress pada diri remaja perlu dikembangkan. Banyak kasus-kasus kenakalan remaja disebabkan oleh stress dan rendahnya kemampuan untuk mengatasi. Pelatihan-pelatihan untuk mengatasi stress dapat membantu para remaja mengembangkan coping ability.
7.            Tahapan melepas anak ke masyarakat;
·      Orangtua yang terlalu memanjakan anaknya dan membuat anak tersebut tidak dapat hidup mandiri tergantung terus – terusan dengan orangtuanya mengakibatkan orang tua tidak bisa bisa melepas anknya dan ketika menikah pun orang tua ingin tetap bersama anaknya.
Teori :
Perubahan di masa puber menyebabkan emosinya tidak stabil sehingga membentuk sikap anak yang cenderung emosional. Sedangkan perilaku anak sebagian besar lebih disebabkan oleh emosi, sehingga untuk merubah perilaku sebaiknya juga memahami emosi yang menjadi motivasinya berperilaku. Oleh karena itu untuk membantu anak mengatasi masalahnya di masa puber, orang tua perlu memperhatikan kebutuhan anak untuk didengar dan diterima. Memandang bahwa remaja sangat sensitive atas model-model perilaku di lingkungannya. Bandura (1970) mengemukakan sebuah teori bahwa apabila seseorang terekspos pada satu model perilaku, kemudian exposure tersebut terjadi berulang-ulang (repetition), maka akan terjadi retention (penyimpanan dalam long-term memory). Bila ini terjadi, maka seseorang tersebut akan mengikuti model perilaku tersebut. Exposure ini biasanya dialami remaja dari media massa terutama televisi atau dari lingkungan sebayanya. Bila model perilaku yang menempa remaja tersebut ternyata dianggap cocok, maka remaja akan mengikuti model perilaku tersebut.  Selain itu, pada saat berkumpul dengan lingkungan kelompoknya, biasanya mereka berperilaku sama, yang sebenarnya merupakan hasil belajar sosial. Masalah muncul apabila model perilaku yang mengeksposnya adalah model perilaku negatif atau menyimpang. Orang tua dan para profesional yang berkepentingan juga mempunyai tanggung jawab dalam hal mencegah tereksposnya remaja pada model-model perilaku negatif atau menyimpang, atau mempersiapkan remaja agar memiliki ketahanan dalam menghadapi pengaruh model-model perilaku tersebut.
Keluarga mempunyai peranan di dalam pertumbuhan dan perkembangan pribadi seorang anak. Sebab keluarga merupakan lingkungan pertama dari tempat kehadirannya dan mempunyai fungsi untuk menerima, merawat dan mendidik seorang anak. Jelaslah keluarga menjadi tempat pendidikan pertama yang dibutuhkan seorang anak. Dan cara bagaimana pendidikan itu diberikan akan menentukan. Sebab pendidikan itu pula pada prinsipnya adalah untuk meletakkan dasar dan arah bagi seorang anak. Pendidikan yang baik akan mengembangkan kedewasaan pribadi anak tersebut. Anak itu menjadi seorang yang mandiri, penuh tangung jawab terhadap tugas dan kewajibannya, menghormati sesama manusia dan hidup sesuai martabat dan citranya. Sebaliknya pendidikan yang salah dapat membawa akibat yang tidak baik bagi perkembangan pribadi anak. Salah satu pendidikan yang salah adalah memanjakan anak. Keadilan orang tua yang tidak merata terhadap anak dapat berupa perbedaan dalam pemberian fasilitas terhadap anak maupun perbedaan kasih sayang. Bagi anak yang merasa diperlakukan tidak adil dapat menyebabkan kekecewaan anak pada orang taunya dan akan merasa iri hati dengan saudara kandungnya. Dalam hubungan ini biasanya anak melakukan protes terhadap orang tuanya yang diwujudkan dalam berbagai bentuk kenakalan.
Solusi :
Biasakannlah ank untuk hidup manidir, jangan terlalau memanjakannya, karena apabila kita memnajakannya maka akan berpengaruh pada masa depannya. Bimbinglah dia menjadi anak yang bisa hidup mandiri namun kita pun harus bisa mengontrolnya agar tidak salah pergaulan.
8.            Tahapan berdua kembali;
·      Stres dan depresi yang berkepanjangan karena kehilangan pasangan hidup yang selam ini menemaninya, tidak siap menirima kepergiannya karena pasangan meninggal secara mendadak.
Teori :
     Gangguan Afektif tipe Depresif Gangguan ini terjadi relatif cepat dalam beberapa bulan. Faktor penyebabnya dapat disebabkan oleh kehilangan atau kematian pasangan hidup atau seseorang yang sangat dekat atau oleh sebab penyakit fisik yang berat atau lama mengalami penderitaan.Gangguan ini paling banyak dijumpai pada usia pertengahan, pada umur 40 – 50 tahun dan kondisinya makin buruk pada lanjut usia (lansia). Pada usia perttangahan tersebut prosentase wanita lebih banyak dari laki-laki, akan tetapi diatas umur 60 tahun keadaan menjadi seimbang. Pada wanita mungkin ada kaitannya dengan masa menopause, yang berarti fungsi seksual mengalami penurunan karena sudah tidak produktif lagi, walaupun sebenarnya tidak harus begitu, karena kebutuhan biologis sebenarnya selama orang masih sehat dan masih memerlukan tidak ada salahnya bila dijalankan terus secara wajar dan teratur tanpa menggangu kesehatannya. Gejala gangguan afektif tipe depresif adalah sedih, sukar tidur, sulit berkonsentrasi, merasa dirinya tak berharga, bosan hidup dan kadang-kadang  ingin bunuh diri. Beberapa pandangan menganggap bahwa terdapat 2 jenis depresi yaitu Depresi tipe Neurotik dan Psikotik. Pada tipe neurotik kesadaran pasien tetap baik, namun memiliki dorongan yang kuat untuk sedih dan tersisih. Pada depresi psikotik, kesadarannya terganggu sehingga kemampuan uji realitas (reality testing ability) ikut terganggu dan berakibat bahwa kadang-kadang pasien tidak dapat mengenali orang, tempat, maupun waktu atau menjadi seseorang yang tak tahu malu, tak ada rasa takut, dsb.
Keterlibatan keluarga secara aktif sejak awal terapi merupakan langkah yang harus ditempuh untuk memberi dukungan pada pasien dan akan berdampak positif terhadap kelangsungan pengobatan," kata psikiater Dr. Suryo Dharmono, SpKJ(K) dari Divisi Psikiatri-Geriatri, Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI -RSCM), dalam media edukasi.
Depresi pada lansia seringkali lambat terdeteksi karena gambaran klinisnya tidak khas. Depresi pada lansia lebih banyak tampil dalam keluhan somatis, seperti kelelahan kronis, gangguan tidur, penurunan berat badan, dan sebagainya. Depresi pada lansia juga dapat tampil dalam bentuk perilaku agitatif, ansietas atau penurunan fungsi kognitif.
Sejumlah faktor pencetus depresi pada lansia, antara lain faktor biologik, psikologik, stres kronis, penggunaan obat. Faktor biologik misalnya faktor genetik, perubahan struktural otak, faktor risiko vaskular, kelemahan fisik. Sedangkan faktor psikologik pencetus depresi pada lansia, yaitu tipe kepribadian, relasi interpersonal. Peristiwa kehidupan seperti berduka, kehilangan orang dicintai, kesulitan ekonomi dan perubahan situasi, stres kronis dan penggunaan obat-obatan tertentu. (http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/26/1912429/waspadai.depresi.pada.lansia)
Solusi :
keluarga adalah tempat curahan hati, sahabat dank ping kuat individu.untuk mencegah adanya depresi tersebut maka perlulah keluarga lebih memperhatikan pasangan ataupun anggota keluarganya agar tidak terkena depresi.
9.            Tahapan masa tua
·      Masih banyak orang tua yang terkadang di umur tuanya tidak sholat mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa, malah di antara mereka manambahnya dengan kemaksiatan berpoya – poya. Atau istilah sekarang adalah “tua – tua keladi, makin tua makin menjadi – jadi”.
Teori :
Berdasarkan  Ayat Al-Qur’an surah ke 49 ayat 13 yang artinya:
wahai manusia sesungguhnya kami (Allah)menciptakan kamu dari laki – laki dan perempuan  dan menjadikan kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhya Allah Maha Mengetahui dan Maha mengenal”.
Dalam pandangan Islam, kepribadian merupakan interaksi dari kualitas-kualitas nafs, qalb, akal dan bashirah, interaksi antara jiwa, hati, akal dan hati nurani. Kepribadian, disamping bermodal kapasitas fitrah bawaan sejak lahir dari warisan genetika orang tuanya, ia terbentuk melalui proses panjang riwayat hidupnya, proses internalisasi nilai pengetahuan dan pengalaman dalam dirinya. Dalam perspektif ini maka keyakinan agama yang ia terima dari pengetahuan maupun dari pengalaman masuk dalam struktur kepribadian seseorang. Seorang muslim dengan kepribadian muslimnya yang prima, tidak bisa merasakan enaknya daging babi, meskipun ia dimasak dengan standar seleranya. Seseorang dengan kepribadian muslimnya yang prima juga tidak sanggup melangkah melayani godaan maksiat. Demikian juga ia selalu terjaga dari tidurnya yang nyenyak jika ia belum menjalankan salat Isya.
Di dalam Al-Qur`an, Allah memaparkan dengan rinci tentang sifat, moralitas tertinggi, dan pola pikir khas orang-orang beriman. Perasaan takut kepada Allah yang menghunjam di dalam kalbu mereka, keyakinan mereka yang tak tertandingi dan upaya yang tak pernah goyah untuk mendapatkan ridha-Nya, kepercayaan yang mereka gantungkan kepada Allah, seperti juga keterikatan, keteguhan, ketergantungan, dan banyak lagi kualitas superior serupa, semuanya disuguhkan Al-Qur`an. Lebih jauh, di dalam Kitab-Nya, Allah menyanjung kualitas-kualitas moral semacam itu, seperti keadilan, kasih sayang, rendah hati, sederhana, keteguhan hati, penyerahan diri secara total kepada-Nya, serta menghindari ucapan tak berguna. Manusia yang berjiwa suci akan menjauhkan pikirannya dari segala bentuk kebatilan. Mereka tidak pernah berniat menyakiti, cemburu, kejam, dan mementingkan diri sendiri, yang semuanya merupakan perasaan tercela yang diserap dan ditampilkan oleh orang-orang yang jauh dari konsep moral Al-Qur`an. Orang-orang beriman memiliki jiwa kesatria, karena mereka merindukan moral terpuji. Inilah sebabnya, terlepas dari penampilan ragawi, orang-orang beriman pun menaruh perhatian besar pada penyucian jiwa mereka-dengan cara menjauhi semua keburukan yang muncul dari kelalaian-dan mengajak orang lain untuk mengikuti hal yang serupa.
Solusi :
Bertobatlah karena umur manusia iu tidak ada yang bisa menebak. Hanya Allah yang Maha mengetahui segala sesuatu yang ada di bumi ini.

Talk less do more
Referen si :
Al – Qura’an
Al – hadist
http://keperawatankomunitas.blogspot.com/2009/01/konsep-keluarga.html
http://72.14.235.104/search?q=cache:h_gsO79jhTEJ:yenibeth.wordpress.com/2008/06/15/proses-keperawatan keluarga/+keperawatan+keluarga&hl=id&ct=clnk&cd=12&gl=id
http://newblueprint.wordpress.com/2008/01/11/teori-konstruksi-sosial-peter-l-berger/
Arif Budiman, Pembagian Kerja Secara Seksual, Jakarta, PT. Gramedia, 1982
Potter, Patricia, 2005, Buku Ajar Fundamental  Keperawatan : konsep, proses, dan praktek/Patricia A. Potter, Anne Griffin Perry; Alih Bahasa, Yasmin Asih et al. Editor edisi Bahasa indonesia, Devi Yulianti, Monica Ester. – Ed.4. – Jakarta ; EGC, 2005
Theories of Social Psychology – Marvin E. Shaw / Philip R. Costanzo, Second Edition, 1985, McGraw-Hill, Inc.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar